Pola Buang Air Kecil Berubah, Jangan Dianggap Sepele

Saat buang air kecil perlu mengejan atau pancaran urine tidak sekuat biasanya? Ini kata dokter urologi.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 15 Juni 2026, 07:30 WIB
Dokter spesialis urologi Dyandra Parikesit dari Eka Hospital MT Haryono ungkap tanda-tanda buang air kecil yang perlu diperiksakan. Termasuk soal pancaran atau rasa sakit saat pipis.

Liputan6.com, Jakarta - Dokter spesialis urologi Dyandra Parikesit mengatakan masyarakat perlu memperhatikan bila muncul perubahan saat buang air kecil, terutama jika disertai keluhan lain.

“Kalau buang air kecilnya sering dan ada tambahan keluhan, misalnya pancarannya berubah, sebelumnya lancar lalu menjadi tersendat-sendat, itu baiknya diperiksa,” katanya dalam diskusi media bersama Eka Hospital beberapa waktu lalu.

Selain perubahan pancaran urine, adanya darah dalam urine juga menjadi tanda yang perlu mendapat perhatian medis. “Kalau ada darah atau ada nyeri saat buang air kecil, itu perlu diperiksa,” ujar Dyandra.

Menurut Dyandra, frekuensi buang air kecil yang meningkat belum tentu menandakan penyakit. Dokter biasanya perlu menggali berbagai informasi lain seperti usia pasien, kebiasaan minum kopi, konsumsi alkohol, hingga pola hidup sehari-hari.

“Kalau seseorang minum kopi beberapa gelas sehari, tentu frekuensi buang air kecilnya bisa lebih sering. Karena itu evaluasinya harus menyeluruh,” katanya.

Meski demikian, perubahan pola berkemih yang terjadi mendadak tetap perlu jadi perhatian. “Prinsipnya, kalau ada perubahan pola berkemih, apalagi terjadi tiba-tiba, sebaiknya diperiksakan,” pesanDyandra.

Ia mencontohkan seseorang yang biasanya tidak memiliki masalah saat buang air kecil, tetapi dalam beberapa bulan terakhir menjadi lebih sering bolak-balik ke toilet.

“Setelah buang air kecil, 15 sampai 30 menit kemudian sudah ingin buang air kecil lagi. Kalau ada perubahan seperti itu, baiknya diperiksa,” ujarnya.

Dyandra menambahkan bahwa keluhan buang air kecil yang tidak normal sering kali disertai gejala lain seperti nyeri atau rasa tidak nyaman. Pemeriksaan sejak dini penting dilakukan untuk mengetahui penyebabnya dan mencegah kondisi menjadi lebih serius.

Skrining Pemeriksaan Saluran Kemih

Di kesempatan itu, Dyandra mengatakan bahwa pria tanpa ada masalah buang air kecil bisa melakukan skrining kesehatan saluran kemih. Berdasarkan usia, berikut skrining urologi yang bisa dilakukan:

Usia 30-an

Pada rentang usia ini, pria umumnya berada di puncak masa produktif dan masa keemasan karier. Tekanan pekerjaan yang memicu stres tinggi, kebiasaan merokok, serta pola hidup yang terlalu banyak duduk menjadi pemicu utama gangguan urologi pada usia muda. Skrining kesehatan biasanya terkait kesehatan reproduksi seperti analisis sperma dan deteksi dini varikokel.

"Lewat USG testis juga bisa digunakan untuk mendeteksi varikokel, yaitu pembengkakan pembuluh darah vena di dalam kantung testis. Varikokel merupakan salah satu penyebab utama infertilitas pria yang paling sering ditemukan pada usia produktif, namun sering kali tidak disadari," katanya.

Usia 45 ke Atas

Memasuki usia kepala empat, tubuh pria mulai mengalami penurunan produksi hormon testosteron secara perlahan serta berkurangnya elastisitas jaringan saluran kemih. Bisa dilakukan evaluasi disfungsi ereksi (impotensi), biasanya berkaitan erat dengan penyumbatan pembuluh darah akibat penyakit jantung koroner, hipertensi, atau diabetes mellitus.

Lalu, pada usia ini perlu juga gemantauan gejala berkemih (Lower Urinary Tract Symptoms/LUTS). Gejala LUTS meliputi aliran urine yang melemah, harus mengejan saat berkemih, urin menetes di akhir BAB, atau sering terbangun di malam hari hanya untuk buang air kecil (nocturia).

Usia 50 Tahun ke Atas

Saat memasuki usia 50 tahun, wajib melakukan pemeriksaan saluran kemih tahunan. Salah satu pemeriksaan yakni uroflowmetry,  sebuah rosedur diagnostik noninvasif untuk mengukur volume, kecepatan pancaran, dan durasi keluarnya urine saat berkemih.

Hasil grafik dari alat uroflowmetry ini membantu dokter menentukan tingkat keparahan sumbatan pada saluran kemih yang umumnya disebabkan oleh Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) atau Pembesaran Prostat Jinak.

Lalu, pada usia ini, kelenjar prostat pria mengalami pertumbuhan sekunder yang rentan memicu keganasan. Bisa dilakukan tes PSA (Prostate-Specific Antigen), pemeriksaan darah sederhana untuk mengukur kadar protein PSA yang diproduksi oleh kelenjar prostat.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya