Liputan6.com, Jakarta - Demam berdarah dengue (DBD) memiliki gejala khas berupa demam mendadak tinggi lalu disertai rasa nyeri di berbagai bagian tubuh. Demam bisa mencapai 38-40 derajat Celsius.
"Demamnya tidak bertahap dari hangat menjadi panas, tetapi langsung tinggi bisa langsung 38 atau 40 derajat Celsius," kata Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Prima Yosephine.
Advertisement
Selain demam tinggi, orang tersebut juga dapat mengalami nyeri otot dan persendian, sakit kepala berat, tubuh terasa lemas, serta kehilangan nafsu makan.
Sebagian pasien juga mengalami keluhan pada saluran pencernaan seperti mual, muntah, diare, atau rasa tidak nyaman di perut. Pada beberapa kasus dapat muncul bintik-bintik merah di bawah kulit akibat perdarahan ringan, meski gejala ini kini tidak selalu ditemukan.
"Sekarang jarang sekali ada bintik merah di bawah kulit," tuturnya lagi dalam temu media pada ASEAN Dengue Day di Jakarta, Senin, 15 Juni 2026.
Bila gejala tersebut terjadi, Prima menyarankan untuk memeriksakan segera ke dokter atau fasilitas kesehatan terdekat. Penemuan kasus secara dini menjadi salah satu kunci penting untuk menekan angka kematian akibat DBD.
"Jika mengalami demam tinggi mendadak yang disertai nyeri kepala, nyeri otot, atau nyeri tulang, lalu hari kedua masih juga demam tinggi segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan atau konsultasikan dengan tenaga kesehatan terdekat," kata Prima.
DBD Berbahaya, Bisa Akibatkan Kematian
Prima mengingatkan bahwa DBD dapat berakibat fatal apabila tidak ditangani dengan tepat. Penyakit ini memiliki tiga fase perjalanan yang perlu dipahami masyarakat.
Fase pertama adalah fase demam tinggi yang biasanya berlangsung selama dua hingga tiga hari pertama dan disertai berbagai gejala khas DBD.
Setelah itu pasien memasuki fase kritis. Pada fase ini suhu tubuh justru mulai turun hingga mendekati normal (sekitar 37 derajat Celsius) sehingga banyak orang mengira kondisinya sudah membaik.
Padahal, menurut Prima, fase tersebut merupakan periode paling berbahaya karena dapat terjadi perdarahan dan kebocoran plasma darah.
"Ketika demam turun, masyarakat sering menganggap pasien sudah sembuh. Padahal justru saat itulah pasien bisa masuk fase kritis," katanya.
Kebocoran plasma menyebabkan cairan dalam pembuluh darah keluar ke jaringan tubuh sehingga volume darah berkurang. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan syok dan berujung pada kematian.
Apabila berhasil melewati fase kritis, pasien akan memasuki fase penyembuhan. Pada tahap ini kondisi tubuh berangsur membaik dan kadar trombosit mulai kembali normal.
Indonesia Targetkan Nol Kematian Akibat DBD pada 2030
Saat ini, Indonesia mencatat ada 39.672 kasus DBD dengan angka kematian 105 hingga Mei 2026. Targetnya, pada 2030 tidak ada lagi orang yang meninggal akibat DBD di Tanah Air.
Kemenkes telah menyiapkan empat strategi untuk mencapai target tersebut, yakni memperkuat deteksi dini dan diagnosis, memastikan penatalaksanaan yang adekuat, meningkatkan upaya pencegahan dan surveilans, serta mempercepat respons terhadap kasus DBD.
Bila seluruh pihak mulai dari masyarakat, pemerintah daerah, swasta, dan lainnya bersama-sama maka sangat mungkin bisa nol kasus kematian akibat DBD.
"Sangat dimungkinkan bila yang tinggal di Indonesia terpanggil untuk mengamankan daerah kita sendiri. Lalu saat kita keluar ke tempat lain ke daerah musim penghujan banyak nyamuk bisa mengoleskan anti nyamuk atau pakai lengan panjang. Pencegahan dari masyarakat yang bisa membuat kita mencapai target tadi," kata Prima.