Liputan6.com, Jakarta - Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Sri Rezeki Hadinegoro mengatakan infeksi dengue tidak hanya menimbulkan persoalan kesehatan, tetapi juga berdampak terhadap produktivitas keluarga akibat hilangnya waktu bekerja dan meningkatnya beban ekonomi selama masa perawatan.
"Pada saat salah satu anak terserang infeksi dengue dan perlu perawatan di rumah sakit, maka orangtua harus mendampingi sehingga kehilangan waktu untuk bekerja dan mengurangi produktivitas. Demikian pula jika orangtua yang sakit, keluarga harus merawat dan dapat mengganggu suasana dan ekonomi keluarga," kata Sri.
Sri mengatakan dampak ekonomi akibat dengue tidak hanya berasal dari biaya pengobatan, tetapi juga dari hilangnya produktivitas selama pasien menjalani perawatan dan masa pemulihan yang dapat berlangsung satu hingga dua pekan.
Advertisement
Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan dengue perlu dipandang sebagai persoalan kesehatan masyarakat yang berdampak luas terhadap kesejahteraan keluarga, sehingga memerlukan upaya pencegahan yang lebih menyeluruh.
Studi terbaru Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Manajemen Asuransi Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) memperkirakan beban ekonomi akibat dengue di Indonesia pada 2024 mencapai sekitar 550,9 juta dolar AS atau hampir Rp 9 triliun, dengan lebih dari 2 juta kasus rawat inap.
Peneliti FK-KMK UGM Diah Ayu Puspandari mengatakan kepemilikan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) belum sepenuhnya membebaskan pasien dari beban biaya selama sakit.
"Pasien JKN masih harus mengeluarkan biaya mandiri rata-rata Rp 1,1-1,3 juta saat menghadapi satu periode sakit akibat dengue untuk kebutuhan non-medis seperti transportasi dan akomodasi pendamping, di luar hilangnya produktivitas. Sementara bagi pasien yang tidak memiliki asuransi, biayanya melonjak hingga Rp 4,3-5,6 juta karena seluruh biaya perawatan medis harus ditanggung sendiri," ujar Diah.
Menurut studi tersebut, kerugian akibat hilangnya produktivitas pada kelompok peserta JKN mencapai sekitar Rp 1,81 triliun sepanjang 2024. Adapun pada kelompok non-JKN, kerugian produktivitas diperkirakan mencapai sekitar Rp 755,2 miliar.
Diah mengatakan besarnya biaya yang harus ditanggung masyarakat menunjukkan dengue bukan lagi sekadar penyakit musiman, melainkan penyakit yang dapat memicu beban ekonomi rumah tangga dan memperdalam kesenjangan finansial. Terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Kendalikan DBD Tak Bisa Cuma 3M Plus
Sri Rezeki menambahkan pengendalian dengue tidak dapat hanya mengandalkan pemberantasan sarang nyamuk melalui gerakan 3M Plus.
"Kita membutuhkan sesuatu yang komprehensif. Perlu ada sinergi kuat yang mengintegrasikan pengendalian vektor nyamuk, penguatan diagnosis dini di fasilitas kesehatan, serta adopsi intervensi medis yang inovatif seperti vaksinasi," katanya.
Mengenai vaksinasi DBD, Guru Besar Departemen Farmakologi dan Terapi FK-KMK UGM Jarir At Thobari mengatakan hasil kajian pemodelan ekonomi kesehatan menunjukkan implementasi vaksinasi dengue berpotensi menurunkan kasus dengue bergejala, rawat inap, dan kematian selama periode 20 tahun.
Dari perspektif masyarakat, katanya, implementasi vaksinasi juga diproyeksikan menghasilkan penghematan biaya sekitar USD329-731 juta atau sekitar Rp5,2-11,5 triliun selama 20 tahun karena turut mengurangi biaya yang ditanggung keluarga dan kehilangan produktivitas.
"Temuan ini menunjukkan bahwa investasi pada pencegahan penyakit tidak hanya berpotensi meningkatkan kesehatan masyarakat, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang signifikan dalam jangka panjang," ujar Jarir.
Â
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301033/original/004849700_1784434276-blt_umkm_-_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298964/original/044978900_1784188695-Screenshot_2026-07-15_123742bbbb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299928/original/085453400_1784279402-cek_fakta_dana_hibah_prabowo_-_purbaya.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6454660/original/051756600_1779318782-1001276959.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2716881/original/044833600_1548845032-pasien-DBD4.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264052/original/051981800_1782069590-Spain_s_Lamine.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257094/original/041007200_1781205796-000_B6T99LB.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299317/original/088764800_1784212809-argentina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294340/original/000872600_1783830200-000_B9XN79R.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5484506/original/024457200_1769435277-arsene.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9300878/original/067363300_1784417747-000_C2JX6TP.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298206/original/007801400_1784152342-063_2286278842.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260848/original/087679100_1781665562-063_2281975452.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5166509/original/037413000_1742274435-20250318-Latihan_Timnas_Prancis-AFP_4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297435/original/065011900_1784091222-000_C27U8NQ.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2344293/original/044855700_1535517013-20180828-Trump-Dapat-Kartu-Merah-dari-Presiden-FIFA-AP20180828-Trump-Dapat-Kartu-Merah-dari-Presiden-FIFA-AP-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8389880/original/043940700_1782270022-AP26174722689391.jpg)