Liputan6.com, Jakarta - Fenomena perubahan gaya hidup yang berujung pada penyakit diabetes terjadi di Indonesia dan dunia.
“Bukan di kita aja, di seluruh dunia terjadi terjadi fenomena perubahan gaya hidup. Senang makan enak, hura-hura, kurang gerak, kalau anak-anak bilang mager (malas gerak),” kata dokter spesialis penyakit dalam konsultan endokrin metabolik dan diabetes, Em Yunir, dalam siaran Instagram bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dikutip pada Senin (22/6/2026).
Advertisement
“Nah, dengan kondisi seperti itu ada pemasukan makanan dengan kalori tinggi yang lebih banyak daripada yang dibutuhkan tubuh untuk aktivitas,” tambahnya.
Menurut Em Yunir, sebagian orang kerap mengonsumsi berbagai makanan dalam jumlah berlebihan, jajan di berbagai tempat, dan minum minuman manis setiap hari.
“Misalnya total kalori yang masuk 1500 atau sampai 3000, kalau ini menjadi kebiasaan bertahun-tahun, kita bisa bayangkan berapa kalori yang tidak kita pakai yang numpuk di dalam badan kita. Nah inilah yang menyebabkan resistensi insulin,” ujarnya.
Semakin banyak kalori yang masuk ke dalam tubuh maka akan diubah menjadi jaringan lemak pemicu resistensi insulin. Ini adalah kondisi ketika sel-sel tubuh tidak merespons insulin dengan baik, insulin sendiri berperan untuk mengatur gula darah dalam tubuh.
Jika kebiasaan makan tidak sehat dilakukan sejak dini, maka diabetes dapat terjadi lebih awal. Ini alasan mengapa usia pengidap diabetes kian muda.
Lebih Jauh Soal Resistensi Insulin
Em Yunir menambahkan, risiko diabetes dapat meningkat pada orang gemuk. Kegemukan memicu banyaknya kadar jaringan lemak di perut. Peningkatan jumlah jaringan lemak membuat insulin lebih bekerja keras dalam mengatur gula darah.
“Kalau kita mengacu pada literatur yang ada dan dari fakta sehari-hari, kita akan lihat bahwa orang yang kegemukan itu ada korelasi yang sangat kuat antara banyaknya kadar jaringan lemak di lingkar perut atau otot dalam perut dengan resistensi insulin. Kita tahu insulin itu yang berperan mengatur gula darah,” kata Em Yunir.
Dia menjelaskan, pada orang dengan berat badan ideal, 10 insulin bisa mengatur 10 kalori atau 10 gram gula. Sedangkan, pada orang dengan resistensi insulin, untuk mengolah 10 gram gula itu dibutuhkan insulin yang lebih banyak, misalnya 20 atau dua kali lipat.
“Jadi, makin banyak jaringan lemak, makin resisten di dalam tubuh kita, maka makin butuh insulin yang tambah banyak,” ujar Em Yunir.
Dengan kondisi seperti ini, maka perlu ada perbaikan pada resistensi insulin supaya insulin kembali bekerja dengan baik. Caranya, mengurangi jaringan lemak atau sel lemak yang ada di seluruh tubuh, termasuk yang di perut atau rongga perut (jaringan lemak viseral).
“Jadi itu hubungannya, kenapa orang yang makin buncit, makin gemuk, risiko kena diabetesnya jadi lebih besar,” jelas Em Yunir.
Batas Gula Darah Normal
Guna mencegah terjadinya resistensi insulin yang berujung pada diabetes, maka pemeriksaan kadar gula darah perlu dilakukan.
“Kalau mau cek, puasa dulu sekitar delapan jam. Kalau gula darah pagi sebelum makan sudah lebih dari 100, itu masuk dalam kategori prediabetes. 100 sampai 125 kita sebut sebagai prediabetes. Nanti kalau sudah masuk ke 126, nah itu yang kita sebut sebagai kelompok diabetes.”
“Jadi, ada kelompok normal dengan gula darah di bawah 100, terus kalau lebih dari 100-125 itu sudah masuk prediabetes, kalau dia sudah tembus 126 atau lebih, itu yang kita sebut grup diabetes,” jelasnya.
Sementara, pemeriksaan gula darah dua jam setelah makan memiliki rentang angka yang berbeda. Yakni, jika kadarnya 200 atau lebih, maka ini termasuk kelompok diabetes.
“Kelompok diabetes ini bisa menjadi masalah karena penyakitnya bisa menjadi kronis, penyakit seumur hidup, mesti dikelola dengan baik,” katanya.