Diabetes dan Obesitas Berbarengan, Penanganan Tak Cuma Fokus Gula Darah

Sudah atur pola makan dan rutin berolahraga, tetapi angka di timbangan tak turun. Kondisi ini jadi tantangan bagi pasien diabetes dengan obesitas.

Diterbitkan 08 Agustus 2026, 19:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Tangerang Selatan- Diabetes dan obesitas kerap ditemukan secara bersamaan. Ketika pasien sudah berupaya menurunkan berat badan melalui diet rendah kalori dan olahraga, tetapi berat badan tak kunjung turun, terapi obat dapat dipertimbangkan untuk membantu proses penurunan berat badan.

"Kan kita tahu ya hulunya itu karena penumpukan lemak tubuh sebenarnya," tutur dokter Dicky Levenus Tahapary, Sp.PD-KEMD, PhD, FINASIM dari Eka Hospital BSD, Tangerang Selatan.

Dicky menjelaskan terdapat beberapa golongan obat diabetes yang dapat memberikan efek terhadap berat badan. Paling tidak ada dua golongan obat yang bisa membantu pasien diabetes menurunkan berat badan. 

Pertama, obat minum yang bekerja dengan membantu membuang gula melalui urine. Dengan mekanisme tersebut, sebagian kalori dari gula yang seharusnya digunakan atau disimpan tubuh ikut terbuang melalui urine. Efek ini dapat membantu mendukung penurunan berat badan.

"Jadi, terbuanglah 200-100 kalori, lumayan bisa menurun 35 persen berat badan," tutur Dicky di sela-sela DOCLink (Diabetes, Obesity and Cardiovascular Link) 20 Metabolic Summit 2026 di Tangerang Selatan pada Sabtu (8/8/2026).

 

Kedua, terapi berbasis GLP-1 atau GLP-1 based treatment. Ini adalah salah satu pendekatan yang memiliki beberapa mekanisme sekaligus.

"Kerjanya tiga, memperbaiki produksi insulin, kedua menekan nafsu makan, menghambat pengosongan lambung jadi kenyang lama," jelasnya.

Ketiga mekanisme tersebut membuat terapi berbasis GLP-1 memiliki pengaruh terhadap beberapa aspek yang berkaitan dengan berat badan. Obat membantu tubuh merespons asupan makanan dengan lebih baik, menekan rasa lapar, sekaligus membuat makanan lebih lama berada di lambung sehingga rasa kenyang bertahan lebih lama.

Dicky mengatakan, obat berbasis GLP-1 memiliki beberapa jenis. Ada yang bekerja hanya melalui reseptor GLP-1 dan ada pula yang bekerja melalui lebih dari satu reseptor. Menurutnya, semakin banyak mekanisme yang bekerja, efek terhadap penurunan berat badan dapat menjadi lebih besar.

Mana yang Lebih Efektif untuk Menurunkan Berat Badan?

"Kalau dilihat dari penurunan berat badan, yang bagus kerjanya triple. Karena menekan nafsu makan, menghambat pengosongan lambung, dan membantu produksi insulin setelah makan, jadi biasanya berat badan turun lebih banyak," kata Dicky. 

Terapi berbasis GLP-1 umumnya diberikan dalam bentuk suntikan, dengan beberapa jenis digunakan secara berkala, termasuk satu kali dalam seminggu. Terapi tersebut tetap perlu diberikan berdasarkan kondisi dan kebutuhan pasien.

Ditambahkan Chairman Diabetes Connection Care (DCC) Eka Hospital, Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo, Sp.PD-KEMD, FINASIM, FACE, menjelaskan bahwa mempertahankan penurunan berat badan bukan perkara mudah.

Ketika seseorang menurunkan berat badan, tubuh dapat memberikan respons yang mendrong seseorang kembali merasa lapar. Mekanisme tersebut merupakan salah satu alasan mengapa berat badan dapat kembali naik setelah seseorang berhasil menurunkannya.

"Kalau menurunkan berat badan, badan akan membalas dengan menurunkan berat badan. Sehingga suatu saat kalah karena tubuh akan kembali, tubuh merespons sedemikian rupa, membikin lapar lagi," ujar Sidartawan.

Dalam kondisi tersebut, terapi yang bekerja dengan menekan nafsu makan dan memperlambat pengosongan lambung dapat membantu pasien mempertahankan pola makan yang lebih terkontrol.

"Awalnya memang untuk pasien diabetes tapi berkembang untuk orang obesitas tanpa diabetes," tutur Sidartawan di kesempatan yang sama. 

Meski begitu keduanya sepakat dalam pengendalian diabetes dan obesitas yang menjadi landasan adalah menjalankan gaya hidup sehat. Mulai dari menjaga pola makan, berolahraga secara rutin, tidur cukup, mengelola stres.Â