Retno Marsudi: Saya Percaya Ibu adalah Arsitek Kehidupan

Retno Marsudi ungkap alasan ibu disebut arsitek kehidupan dan pentingnya dukungan keluarga.

Diterbitkan 09 Agustus 2026, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Komisaris Independen BMHS, Retno Marsudi, menekankan pentingnya peran ibu dan keluarga dalam membentuk kehidupan anak sejak usia dini. Menurutnya, keluarga merupakan tempat pertama bagi anak untuk mengenal nilai, prinsip, kasih sayang, serta berbagai bekal kehidupan.

"Sebagai seorang ibu, saya percaya bahwa ibu adalah arsitek kehidupan. Nilai dan prinsip tidak pertama kali disemai di institusi pendidikan, tapi dari rumah sejak dini, dan ibu adalah penyemai pertama," ujar Retno saat membuka Bunda Parenting Convention 2026 pada Sabtu, 8 Agustus 2026.

Mantan Luar Negeri perempuan pertama Indonesia yang menjabat pada Kabinet Kerja dan Kabinet Indonesia Maju, mengatakan, menjalankan peran sebagai perempuan yang bekerja sekaligus membangun keluarga memang memiliki tantangan tersendiri.

Namun, menurut Retno, kedua peran tersebut tetap dapat dijalankan secara optimal selama ibu mendapatkan dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar.

"Menjalankan peran sebagai perempuan yang bekerja sekaligus membangun keluarga memang penuh tantangan tapi sesuatu yang sangat mungkin dan dapat dilakukan," katanya.

Dia menilai kerja sama atau teamwork di dalam keluarga menjadi salah satu kunci penting. "Dengan teamwork sebagai kunci dalam keluarga serta lingkungan yang mendukung, ibu dapat menjalankan kedua perannya secara optimal. Oleh sebab itu, empowering women means investing in a brighter and better future," pungkasnya.

Di sisi lain, tantangan tumbuh kembang anak saat ini semakin kompleks. Orang tua tidak hanya perlu memenuhi kebutuhan fisik anak, tapi juga memperhatikan nutrisi, stimulasi perkembangan, kesehatan mental, hingga kualitas interaksi di dalam keluarga.

Dokter Tiwi Spesialis Anak RSIA Bunda mengatakan kebutuhan dasar anak pada dasarnya tidak berubah meski zaman terus berkembang.

Menurut dokter Tiwi, anak membutuhkan nutrisi, kasih sayang, dan stimulasi untuk mendukung tumbuh kembangnya. Hal yang berubah adalah lingkungan yang dihadapi anak dan orang tua, termasuk semakin banyaknya distraksi dalam kehidupan sehari-hari.

"Semua bayi atau semua anak, siapapun dia, di manapun dia dilahirkan, basic-nya itu adalah tiga itu," kata Tiwi.

Dia juga menyoroti penggunaan gawai oleh orang tua yang dapat menjadi salah satu distraksi dalam interaksi dengan anak. Menurutnya, anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap apa yang dilakukan orang tuanya.

"Gadget itu walaupun mereka tidak kasih ke anak, tapi kalau mereka mengerjakan, terus-terus menambahkan, untuk mereka sendiri, pasti anak itu pengen tahu," ujar dokter Tiwi.

Oleh sebab itu, keterlibatan orang tua sejak awal kehidupan anak menjadi hal penting. Peran keluarga bukan hanya memenuhi kebutuhan anak, tetapi juga membangun fondasi yang akan dibawa anak dalam menjalani kehidupannya.

"Tadi Ibu Retno mengatakan bahwa komunikasi atau obrolan di dalam keluarga mungkin sekarang sudah sangat berkurang. Bukan hanya anak yang sibuk dengan dunianya, tapi orang tua juga semakin sibuk," kata Tiwi.

"Karena itu, saya kurang sepaham jika dikatakan bahwa anak memiliki waktunya sendiri. Pada tahap awal, justru orang tua yang memiliki peran besar dalam membentuk anak," tambahnya.

Nantinya, ketika anak tumbuh dan menjalani kehidupannya sendiri, dia akan membawa bekal yang sudah ditanamkan oleh orang tuanya sejak awal.