Nonton Piala Dunia Sampai Dini Hari, Ini Tips agar Tetap Fit Saat Bekerja

Musim Piala Dunia bikin pekerja rela bergadang. Hal ini tentu berdampak pada efektivitas bekerja.

oleh Ade Nasihudin Al AnsoriDiterbitkan 24 Juni 2026, 06:00 WIB
Cristiano Ronaldo dan Francisco Conceiciao dari Portugal bereaksi saat menjalani pertandingan Grup K Piala Dunia FIFA 2026 antara Portugal melawan DR Kongo di Houston Stadium, Houston, Texas, pada 17 Juni 2026. (Lars Baron / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Demam sepak bola kembali melanda seiring bergulirnya Piala Dunia 2026. Banyak penggemar sepak bola rela mengorbankan waktu tidur demi menyaksikan pertandingan tim favorit yang berlangsung tengah malam atau dini hari.

Terkait bergadang untuk menonton laga secara langsung, ternyata dapat berdampak pada produktivitas kerja keesokan harinya seperti disampaikan dokter spesialis kedokteran okupasi, M. Arief Gunawan.  

Salah satu dampak bergadang adalah fungsi decision making (pemilihan keputusan). Misalnya diminta untuk mengerjakan A tapi malah melakukan B.  Lalu, dampak bergadang yang lebih berbahaya yakni microsleep di perjalanan yang bisa memicu kecelakaan.

Guna menyiasatinya, Arief menawarkan beberapa cara. Pertama tidak menonton pertandingan Piala Dunia secara langsung. “Yang pasti kalau memang bisa enggak live (nonton langsung) itu memang lebih bagus, karena pasti ada rekamannya, tapi pasti enggak seru kalau enggak live,” kata Arief saat ditemui di Klinik Pertamina IHC Masjid Agung Sunda Kelapa (MASK), Jakarta Pusat, Selasa (23/6/2026).

Kedua, jika memang menonton pertandingan di tengah malam, keesokan harinya saat istirahat di kantor digunakan untuk tidur singkat sekitar 30-45 menit.  

“Kalau mau nonton pertandingan jam 4 atau 5 pagi, maka jam 8 atau 9 malam harus sudah tidur. Caranya dengan mematikan handphone lalu meredupkan lampu agar bisa tidur,” sarannya.

Tren Lain pada Pekerja: FOMO Lari

Dokter spesialis kedokteran okupasi, M. Arief Gunawan soal pekerja rela begadang di musim piala dunia, Jakarta Pusat, Selasa (23/6/2026). Foto: Liputan6.com/Ade Nasihudin.

Selain Piala Dunia, sebagian pekerja juga kini tengah hobi mengikuti ajang lari. Sebetulnya, lari adalah aktivitas yang baik, tapi jika dilakukan dengan kurang tepat, maka risikonya cedera yang juga bisa mengganggu pekerjaan.

Menurut Arief, angka cedera lutut di antara para pekerja memang kian meningkat belakangan ini.

“Memang ada peningkatan cedera pada lutut, overuse (penggunaan berlebihan) dan karena banyak orang yang belum terlatih tiba-tiba langsung maraton dipaksain akhirnya lututnya sakit.”

Olahraga lari, sambung Arief, memiliki berbagai teknik tersendiri, jika tatacara dan teknik yang tepat tidak diterapkan dengan baik, maka risiko cedera dapat meningkat.

“Baiknya olahraga semampunya, jadi enggak usah ngoyo, enggak usah target medali berapa kilometer, yang penting ada tiga poin. Pertama nutrisinya, makanan harus tinggi protein. Kedua jangan overuse, ketiga recovery, istirahat yang cukup,” pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya