Burnout Bisa Bikin Seseorang Lepas Kontrol di Media Sosial

Meski begitu, burnout tidak dapat dijadikan pembenaran untuk melakukan tindakan yang merugikan orang lain.

Diterbitkan 08 Agustus 2026, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Burnout adalah kondisi ketika seseorang merasa terlalu lelah, baik secara fisik, mental dan emosional. Kondisi ini ternyata bisa memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengendalikan emosi saat menggunakan media sosial.

Psikolog klinis, Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog, mengatakan burnout atau kelelahan kerja dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengatur emosi sehingga lebih mudah tersulut, bersikap sinis, kehilangan empati, dan bertindak impulsif di media sosial.

"Orang yang mengalami burnout itu sedang mengalami kelelahan fisik dan mental, akibatnya ia dalam kondisi yang mudah tersinggung, sinis, kehilangan empati, dan kemampuan mengendalikan impulsnya menurun," kata Ratih mengutip Antara.

Alhasil, kondisi tersebut membuat seseorang lebih rentan mengunggah komentar atau konten yang sebenarnya tidak akan dilakukan ketika kondisi emosinya stabil.

Kondisi ketika seseorang cenderung lebih berani, impulsif, atau kurang mampu menahan diri di ruang digital dikenal sebagai online disinhibition effect. "Media sosial memiliki karakteristik yang membuat seseorang lebih mudah bereaksi secara bebas, lepas, emosional dibandingkan ketika ia berinteraksi secara langsung," ujarnya.

Perasaan adanya jarak, anonimitas, atau minimnya konsekuensi yang langsung terlihat dapat membuat seseorang lebih mudah mengabaikan kontrol diri ketika berinteraksi di ruang digital.

Meski demikian, Ratih menegaskan burnout tidak dapat dijadikan pembenaran untuk melakukan tindakan yang merugikan orang lain.

"Burnout bukan pembenaran atas perilaku yang merugikan orang lain. Burnout dapat menjadi faktor risiko, tetapi setiap individu tetap memiliki tanggung jawab," katanya.

 

Sedang Lelah atau Tertekan? Batasi Media Sosial untuk Sementara

Ratih menyarankan orang yang sedang mengalami tekanan atau kelelahan untuk mengenali kondisi emosinya sebelum berinteraksi di media sosial.

Psikolog lulusan Universitas Indonesia itu mengatakan seseorang yagn sangat lelah sebaiknya membatasi paparan media sosial. Lalu fokus untuk menjaga kualitas tidur, mengelola beban kerja, serta memiliki saluran pelepasan stres yang sehat dapat membantu mengurangi perilaku impulsif di ruang digital.

Ratih juga mengingatkan orang untuk memberi jeda sebelum mengunggah sesuatu ketika sedang dikuasai emosi.

"Pause before posting," ujarnya.

Ia mengatakan seseorang dapat memberikan waktu beberapa menit hingga beberapa jam sebelum mengunggah konten agar kondisi emosinya lebih stabil.