Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji mendorong para ayah untuk meluangkan waktu berinteraksi dengan anak. Kehadiran ayah amat penting mendukung perkembangan anak.
"Anak-anak itu rindu tidak hanya sentuhan duit, tapi juga butuh sentuhan psikologis," kata Wihaji.
Advertisement
Salah satu bentuk interaksi adalah mengajak anak mengobrol. "Bapak-bapak tolong luangkan waktu untuk ngobrol sama anak-anak. Kalau nggak anak-anak nantinya yang mengajak ngobrol adalah HP," kata Wihaji saat menghadiri kegiatan Gerakan Ayah Mengambil Rapor (Gemar) di MAN 1 Yogyakarta, Kamis (25/6/2026).
Ia mencontohkan salah satu kegiatannya pada pagi hari yang selalu mengusahakan untuk mengantarkan anaknya berangkat ke sekolah. Selama perjalanan, ia bisa berinteraksi minimal 30 menit hingga satu jam dengan buah hati.
"Satu hingga dua jam saja, sempatkan. Saya sampai sekarang masih mengantarkan anak ke sekolah, nyetir sendiri karena minimal setengah jam sampai satu jam bisa ngobrol, kalau nyetir pasti enggak memegang handphone," ucap Wihaji mengutip Antara.
Dalam kesempatan itu, Wihaji juga mengingatkan pentingnya membangun komunikasi dengan anak sejak dini agar mereka tidak hanya bergantung pada gawai untuk mencari teman berbicara. Maka dari itu, para guru sebaiknya juga mengajak siswa mengobrol.
"Sekolah sebagai satuan pendidikan tidak hanya transfer of knowledge, tapi juga transfer of value. Karena itu, saya titip anak-anak yang sekolah di sini diajak ngobrol. Karena, kalau tidak diajak ngobrol nanti anak kita semua ini ngobrolnya sama HP, yang kita sebut sebagai keluarga baru, yang kalau tidak hati-hati dipengaruhi oleh HP yang dalam tanda kutip tidak punya hati," katanya.
Jangan Sampai Anak Fatherless
Gemar merupakan salah satu program Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) untuk meningkatkan keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan pendidikan anak sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan keluarga. Jangan sampai anak-anak fatherless.
"Karena di Indonesia ada 25 persen istilah namanya fatherless, kehilangan sosok ayah. Seperti yang sering saya sampaikan unit yang paling terkecil di negara namanya keluarga. Maka, kalau kita bikin perbaikan dimulai dari keluarga, dan yang paling sederhana," katanya.