Liputan6.com, Jakarta - Santri kerap merasakan rindu rumah atau homesick terutama dalam tahap adaptasi. Pada sebagian anak, kondisi ini dapat lebih parah dan membutuhkan dukungan layanan kesehatan mental.
“Homesick ini bukan sekadar rindu biasa, saya dulu juga mengalami, 83 persen anak ini mengalami kangen rumah saat pertama kali berpisah dari keluarga. Dan ini bisa parah pada sebagian dari mereka, sayangnya dukungan kesehatan mental ini masih belum terlalu umum di pesantren,” kata Ketua Bidang Riset dan Pengembangan Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPP LDII), dr. Dicky Budiman, Ph.D., kepada Kesehatan Liputan6.com lewat pesan suara, Selasa (7/7/2026).
Advertisement
Dia menambahkan, setiap pesantren perlu memiliki unit kesehatan sendiri dengan bentuk yang proporsional bagi ukuran suatu pesantren.
“Jadi tidak harus klinik penuh, misalnya poskestren (pos kesehatan pesantren) yang diwujudkan sebagai balai kesehatan santri masyarakat (BKSM). Anggotanya ya santri sendiri, didukung tenaga perawat dan dokter yang siap merespons kalau ada yang sakit,” ujarnya.
Menurut Dicky, ini merupakan model minimum yang realistis untuk direplikasi karena tidak mengharuskan pesantren membangun klinik dari nol. Fasilitas seperti ini juga bisa diintegrasikan dengan puskesmas setempat.
“Poskestren penting karena untuk deteksi dini penyakit scabies (kudis) atau tuberkulosis (TBC) itu perlu adanya tenaga kesehatan yang ada setiap hari di asrama. Santri juga lebih nyaman untuk konsultasi ke perawat yang mereka kenal di lingkungan pesantren,” ujarnya.
Idealnya Punya 1 Petugas Kesehatan Terlatih
Dicky juga menilai bahwa setiap pesantren idealnya memiliki satu petugas kesehatan terlatih dan menjalin kerja sama dengan puskesmas terdekat untuk rujukan dan skrining berkala.
“Juga punya protokol isolasi sederhana untuk kasus menular. Jadi, kalau pesantrennya besar, lebih dari 1000 santri, sebaiknya punya dokter tetap dan perawat,” saran Dicky.
Sementara terkait ambulans, setiap pesantren tidak selalu perlu memiliki satu unit sendiri. Hal yang terpenting adalah akses mudah dan cepat ke transportasi rujukan darurat.
“Jadi bukan kepemilikan aset. Ambulans yang jarang dipakai ini akan merugikan juga, karena mayoritas kasus kesehatan santri kan soal kulit, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), gangguan pencernaan ringan, jadi bukan kegawatdaruratan.”
Beda cerita jika pesantrennya berada di lokasi terpencil dengan fasilitas kesehatan yang jauh, lebih dari 30 menit perjalanan. Maka pesantren seperti ini dinilai perlu memiliki kendaraan siaga darurat.