Polusi Udara Ternyata Berdampak pada Sperma, Ini Temuannya

Studi terbaru mengungkap polusi udara diduga memengaruhi DNA sperma dan kesuburan pria.

Diterbitkan 08 Juli 2026, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Polusi udara tidak hanya berdampak buruk pada paru-paru tapi juga diduga dapat mengubah cara kerja gen pada sperma. Hal ini terungkap dalam sebuah studi yang menemukan bahwa paparan polutan umum berpotensi mengganggu fungsi biologis sistem reproduksi pria.

Mengutip The Guardian pada Selasa (7/7/2026), penelitian tersebut menunjukkan bahwa pria yang terpapar polusi udara saat sperma sedang berkembang mengalami perubahan halus pada DNA sperma. Perubahan ini memengaruhi aktif atau tidaknya gen, sehingga memunculkan kekhawatiran baru mengenai dampak polusi terhadap kesuburan pria.

Temuan tersebut dipresentasikan dalam pertemuan tahunan European Society of Human Reproduction and Embryology di London, Inggris. Peneliti menemukan bahwa ozon dan nitrogen dioksida menjadi dua polutan yang paling kuat memicu perubahan epigenetik pada DNA sperma.

Epidemiolog dari University of Massachusetts Amherst, Amerika Serikat, sekaligus peneliti utama studi ini, Dr. Carrie Nobles, mengatakan, paparan polusi udara selama masa penting perkembangan sperma berkaitan dengan perubahan pada DNA sperma.

"Temuan kami menunjukkan bahwa paparan polusi udara selama masa penting perkembangan sperma dapat dikaitkan dengan perubahan pada DNA sperma," ujar Nobles.

Perubahan Terjadi Selama Masa Pembentukan Sperma

Penelitian ini melibatkan lebih dari 2.000 pria di Salt Lake City, Utah, Amerika Serikat, sepanjang 2013-2017. Para peserta diminta menyerahkan sampel semen saat pertama kali bergabung, kemudian kembali memberikan sampel setelah dua, empat, dan enam bulan.

Peneliti kemudian memperkirakan tingkat paparan polusi udara luar ruangan yang diterima setiap peserta selama tiga bulan sebelum pengambilan sampel. Periode tersebut dipilih karena sesuai dengan rata-rata waktu yang dibutuhkan tubuh untuk memproduksi sperma.

Polutan yang dianalisis meliputi ozon, nitrogen dioksida, sulfur dioksida, dan partikel halus PM2.5.

Selama ini, sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa polusi udara dapat menurunkan kesuburan pria. Namun, mekanisme biologis yang mendasarinya belum sepenuhnya dipahami. Studi terbaru ini mengidentifikasi metilasi DNA sebagai salah satu mekanisme yang mungkin berperan.

Metilasi DNA merupakan proses penambahan penanda kimia pada DNA yang mengatur aktif atau tidaknya suatu gen tanpa mengubah susunan kode genetiknya.

Saat menganalisis DNA sperma dari 1.220 pria yang menyelesaikan pemeriksaan hingga bulan keenam, peneliti menemukan 39 perubahan metilasi DNA yang berkaitan dengan paparan campuran polusi udara. Ozon dan nitrogen dioksida kembali menjadi faktor yang paling dominan.

Sebagian besar perubahan epigenetik tersebut memang akan hilang pada tahap awal perkembangan embrio. Namun, beberapa perubahan diperkirakan tetap bertahan dan berpotensi memengaruhi perkembangan embrio.

Salah satu gen yang ditemukan mengalami perubahan adalah GNAS, yang sebelumnya juga dikaitkan dengan penurunan kualitas semen dan gangguan perkembangan janin.

"Perubahan pada ekspresi gen ini berpotensi memengaruhi kesuburan pria, sehingga penelitian di bidang ini sangat penting," kata Nobles.

Meski demikian, Nobles menegaskan bahwa masih diperlukan penelitian lanjutan untuk memastikan apakah perubahan metilasi DNA akibat polusi udara benar-benar berdampak langsung terhadap tingkat kesuburan pria.

 

Pakar: Belum Bisa Disimpulkan Sebabkan Kemandulan

Menanggapi hasil penelitian tersebut, Profesor Andrologi dari University of Manchester, Inggris, Prof. Allan Pacey, yang tidak terlibat dalam studi, menilai penelitian ini berhasil menunjukkan adanya perubahan biologis yang nyata pada DNA sperma.

Namun, ia mengingatkan bahwa temuan tersebut belum cukup untuk menyimpulkan dampak klinisnya.

"Untuk saat ini, belum bisa disimpulkan apakah perubahan metilasi DNA sperma yang diamati ini memiliki makna klinis langsung terhadap kemandulan pria. Perlu ada penelitian lanjutan untuk mengonfirmasi atau membantah hal tersebut," ujar Pacey.

Sementara itu, Profesor Biologi Reproduksi dari University of Nottingham, Inggris, Prof. Richard Lea, menyebut penelitian ini semakin memperkuat bukti bahwa kualitas sperma dapat terdampak oleh polusi udara.

"Ini adalah penelitian penting yang memperkuat tumpukan bukti bahwa kualitas sperma memang terpengaruh secara buruk oleh polutan yang ada di udara," pungkasnya.