Liputan6.com, Jakarta - Belakangan rumah sakit di Malaysia viral lantaran ada beberapa burung merpati bebas berkeliaran di ruangan pasien. Bahkan, burung-burung itu memakan makanan yang ada di meja sebelah ranjang pasien.
Menanggapi hal ini, dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dokter Aisyah Amanda Hanif, MSc, mengatakan bahwa keberadaan burung liar di ruang perawatan tidak boleh dianggap sepele. Pasalnya, ini dapat meningkatkan risiko penularan penyakit, terutama bagi pasien dengan kondisi kesehatan yang rentan.
Advertisement
“Masuknya burung liar ke dalam rumah sakit menunjukkan belum optimalnya pemenuhan standar kebersihan dan pencegahan infeksi di lingkungan fasilitas kesehatan. Hewan liar berpotensi membawa mikroorganisme yang dapat membahayakan pasien maupun tenaga kesehatan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, burung merpati diketahui dapat menjadi pembawa berbagai mikroorganisme penyebab penyakit. Kotorannya dapat mengandung spora jamur seperti Cryptococcus sp dan Histoplasma sp serta bakteri seperti Mycobacterium avium complex dan Staphylococcus aureus. Mikroorganisme tersebut berpotensi menyebabkan infeksi pada manusia, terutama pada individu dengan daya tahan tubuh yang lemah.
Selain itu, kutu yang hidup pada tubuh burung merpati juga dapat menggigit manusia sehingga menimbulkan gatal maupun iritasi kulit.
Tak hanya berisiko menularkan penyakit, keberadaan burung di dalam ruang perawatan juga dapat menurunkan kualitas lingkungan rumah sakit. Bulu, debu, dan kotoran burung dapat mencemari udara, memicu reaksi alergi pada pasien yang sensitif, mengotori ruangan, serta mengurangi kenyamanan selama proses perawatan.
Jaga Rumah Sakit Tetap Bersih
Menurut Aisyah, ketika burung liar ditemukan masuk ke ruang perawatan, rumah sakit perlu segera mengambil langkah penanganan yang aman. Burung sebaiknya ditangkap atau diarahkan keluar tanpa melukainya, kemudian seluruh celah yang menjadi akses masuk harus ditutup agar kejadian serupa tidak terulang.
“Pembersihan ruangan juga harus dilakukan secara hati-hati. Petugas sebaiknya menggunakan masker N95 dan tidak langsung menyapu kering kotoran burung karena dapat menyebabkan partikel yang mengandung mikroorganisme beterbangan dan terhirup,” jelasnya.
Ia juga menyarankan agar rumah sakit memantau kondisi kesehatan pasien maupun tenaga kesehatan yang sempat terpapar, serta memasang imbauan agar pengunjung tidak memberi makan burung di area rumah sakit. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah burung kembali datang dan menjaga lingkungan rumah sakit tetap aman, bersih, serta mendukung keselamatan pasien.
Kata Pihak Rumah Sakit
Peristiwa ini terjadi di Hospital Tengku Ampuan Rahimah (HTAR), Malaysia dan sudah mendapat penanganan dari Kementerian Kesehatan Malaysia.
Dalam surat resminya, pihak rumah sakit menjelaskan bahwa merpati dan gagak memang menjadikan pohon-pohon di sekitar rumah sakit sebagai habitatnya.
“Pihak Hospital Tengku Ampuan Rahimah (HTAR) ingin merujuk kepada isu video tular berkaitan kemasukan burung merpati di wad (bilik perawatan). Terdapat burung merpati dan burung gagak yang menjadikan kawasan pokok-pokok (pohon-pohon) di sekitar hospital sebagai habitat. Keadaan ini berpotensi menyebabkan burung memasuki kawasan bangunan hospital secara tidak sengaja,” mengutip keterangan resmi HTAR yang dipublikasi pada 8 Juni 2026.
Guna menangani hal ini, pihak RS memilih untuk memangkas pohon-pohon dan melakukan pemantauan berlanjut.
“Bagi menangani perkara tersebut, HTAR telah melaksanakan langkah kawalan secara berkala, termasuk pemangkasan pokok oleh syarikat konsesi serta pemantauan berterusan di kawasan wad dan bangunan hospital.”
“Selain itu, HTAR turut mendapatkan kerja sama Pihak Berkuasa Tempatan (PBT) bagi memperkukuh usaha mengawal gangguan burung di kawasan hospital.”
Atas kejadian ini, HTAR berkomitmen untuk memastikan lingkungan RS tetap bersih dan kondusif demi kesejahteraan pasien, tenaga kesehatan, serta pekerja rumah sakit. Langkah-langkah yang sesuai akan terus dilaksanakan dari waktu ke waktu untuk menekan risiko terulangnya kejadian serupa.
“Semua langkah yang bersesuaian akan terus dilaksanakan dari semasa ke semasa bagi mengurangkan risiko kejadian seumpama ini berulang,” pungkas HTAR.