Liputan6.com, Jakarta - Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dokter Cynthia Centauri, SpA Subsp Respi (K) mengatakan penelitian yang dilakukan pada 2024 menunjukkan adanya penurunan fungsi paru-paru pada anak-anak yang tinggal di daerah dengan polusi udara tinggi.
Cynthia mengatakan bahwa 13,3 persen anak didapati mengalami penurunan fungsi paru-paru dalam penelitian yang dilakukan pada anak sekolah di wilayah Jakarta dengan tingkat polusi udara tinggi selama enam bulan.
Advertisement
"Dari penelitian itu saya mendapatkan sebanyak 13,3 persen anak yang tampaknya sehat, tidak ada gangguan aktivitas, tidak sesak, bersekolah biasa, sudah ada penurunan fungsi paru," kata Cynthia mengutip Antara.
Penelitian itu juga menunjukkan bahwa semakin tinggi kadar partikulat PM2.5 di lingkungan, semakin besar pula gangguan fungsi paru-paru yang ditemukan berdasarkan pemeriksaan spirometri untuk mengevaluasi fungsi paru-paru.
Kenapa Anak Lebih Rentan Kena Dampak Polusi Udara?
Cynthia mengatakan bahwa anak-anak lebih rentan kena dampak paparan polusi udara karena mereka menghirup udara dua hingga tiga kali lebih banyak dibandingkan dengan orang dewasa.
Saluran napas anak masih berkembang, ia menyampaikan, kerusakan paru-paru yang dipicu oleh paparan polusi udara dapat menetap hingga dewasa.
Polusi Udara di Dalam dan Luar Ruang
Anak-anak bisa terpapar polusi udara tak hanya saat berada di luar ruangan. Anak-anak bisa terpapar polusi udara akibat emisi gas kendaraan bermotor, pembakaran sampah, aktivitas industri, dan kebakaran hutan.
Jangan salah, anak-anak juga bisa terpapar polusi udara ketika berada di dalam ruangan. Misalnya karena paparan polusi udara dari asap rokok dan vape, debu, cat, pernis, lem, dan senyawa organik volatil (Volatile Organic Compounds/VOC).
Anak yang Tinggal Dekat Jalan Raya
Anak yang tinggal di dekat jalan raya lebih berisiko terdampak polusi udara terkait lalu lintas kendaraan (Traffic Related Air Pollution/TRAP).
Paparan polusi udara dapat memicu infeksi saluran pernapasan, asma, bronkitis, penurunan fungsi paru-paru, serta gangguan pada jantung, pembuluh darah, dan sistem saraf.
Guna mengurangi dampak paparan polusi udara terhadap kesehatan anak, Cynthia mengatakan, kegiatan seperti membakar sampah serta merokok atau menghisap vape sebaiknya tidak dilakukan di dekat anak-anak.
Selain itu, anak-anak sebaiknya dihindarkan dari area dengan polusi udara tinggi serta dipakaikan masker jika perlu.
Penggunaan alat penyaring udara dan penanaman tumbuhan yang bisa membantu mengurangi polutan di lingkungan tempat tinggal juga bisa menjadi opsi upaya untuk menekan dampak polusi udara terhadap kesehatan anak.