Usia Sama tapi Kemampuan Fokus Anak Bisa Beda, Kenapa?

Salah satunya kurang stimulasi bisa membuat anak mengalami gangguan fokus.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 09 Juli 2026, 15:00 WIB
Ilustrasi siswa, anak sekolah, SMP. (Photo by Ed Us on Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Usia biologis sama tapi bisa saja kemampuan fokus setiap anak bisa jauh berbeda. Misalnya ada anak usia 10 tahun yang seharusnya sudah bisa berpikir abstrak tapi cara berpikir masih secara konkret. Hal ini bisa terjadi karena berbagai faktor. 

"Kondisi seperti ini bisa terjadi karena anak kurang mendapatkan stimulasi melalui aktivitas bermain atau memang ada masalah pada kemampuan kognitifnya. Karena itu perlu dilakukan asesmen," jelas dokter spesialis kedokteran jiwa subspesialis anak dan remaja Isa Multazam Noor dari RS Soeharto Heerdjan Jakarta Barat.

Isa mengatakan ada anak yang secara usia biologis sudah duduk di kelas 5 SD, tetapi kemampuan berpikir dan pemahaman mentalnya masih setara anak yang lebih muda. Kondisi tersebut perlu dievaluasi lebih lanjut untuk mengetahui penyebabnya.

"Bisa jadi anak mengalami gangguan konsentrasi, memiliki kemampuan berpikir yang memang lebih rendah, atau mengalami disabilitas intelektual," ujarnya.

Namun, Isa mengatakan tidak semua anak yang sulit fokus memiliki kecerdasan rendah. "Bisa saja sebenarnya dia pintar, tetapi kurang mendapatkan stimulasi dari lingkungan. Bisa juga karena memiliki gangguan atensi atau gangguan fokus yang tidak dikelola dengan baik," kata Isa dalam sesi talkshow di Instagram Kementerian Kesehatan beberapa hari lalu. 

 

Penyebab Anak Sulit Fokus

Isa mengatakan salah satu penyebab anak zaman sekarang sulit mendapatkan distraksi karena paparan teknologi digital, terutama penggunaan media sosial di smartphone 

"Fenomena sekarang sangat dekat dengan teknologi digital. Anak mudah sekali terdistraksi. Saat membuka smartphone, mereka langsung melihat reels, lalu berganti ke video berikutnya dalam hitungan detik. Ini berpotensi membuat anak semakin mudah terdistraksi," jelasnya.

Ia menambahkan, pola konsumsi konten pendek secara terus-menerus bahkan memunculkan istilah brain rot, yaitu kondisi ketika otak terbiasa menerima rangsangan yang serba cepat.

"Anak belum sempat mengamati atau memahami satu konten secara mendalam, tetapi sudah berpindah ke konten berikutnya. Akibatnya, mereka menjadi mudah terdistraksi dan kesulitan mempertahankan perhatian dalam waktu yang lama," ujarnya.

Hal serupa juga dapat terjadi pada anak yang terlalu sering bermain gim di smartphone.

"Anak memang bisa fokus saat bermain gim, tetapi fokusnya hanya tertuju pada aktivitas itu. Sementara untuk kegiatan belajar atau tugas sekolah, kemampuan mempertahankan perhatian menjadi lebih rendah. Dampaknya kemudian bisa terlihat saat anak mengikuti pelajaran di sekolah."

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya