Mulai Lari karena FOMO Tak Masalah, Asal Jadi Kebiasaan

Jangan anggap mudah karena lari perlu persiapan untuk mencegah cedera serta mendapatkan manfaat bagi kesehatan.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 11 Juli 2026, 16:00 WIB
Suka lari karena FOMO tak masalah asal jadi kebiasaan sehat yang konsisten.

Liputan6.com, Jakarta - Olahraga lari semakin digemari masyarakat, terutama di kalangan anak muda. Maraknya ajang lari (running event) serta aplikasi kebugaran seperti Strava membuat semakin banyak orang mulai berlari.

Tak sedikit pula yang mengaku ikut karena fenomena fear of missing out (FOMO). Menurut dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dokter Iman Permana, M.Kes., Ph.D., hal itu bukan masalah selama olahraga akhirnya menjadi kebiasaan yang dilakukan secara konsisten.

“Kalaupun awalnya ikut-ikutan atau karena FOMO, harapannya lama-kelamaan orang menyadari manfaat jangka panjangnya sehingga olahraga menjadi kebiasaan yang terus dilakukan,” kata Iman. 

Ia pun meminta agar masyarakat yang kini suka lari tidak menganggap enteng olahraga satu ini. Lari memerlukan persiapan agar manfaatnya optimal dan risiko cedera dapat diminimalkan.

Hal pertama yang perlu dimiliki setiap orang adalah tujuan yang jelas dalam berolahraga. Tujuan tersebut akan menjadi motivasi untuk tetap konsisten meskipun pada awal latihan muncul rasa lelah atau nyeri otot.

Lalu, pemanasan dan pendinginan tidak boleh diabaikan karena berperan penting dalam mengurangi risiko cedera serta mempercepat proses pemulihan setelah berolahraga. Pemilihan perlengkapan, terutama sepatu lari, juga menjadi faktor yang tidak kalah penting.

“Sepatu yang sesuai akan sangat membantu menunjang aktivitas lari. Sepatu tenis, misalnya, tidak dirancang untuk berlari sehingga karakteristiknya berbeda dengan sepatu lari,” katanya mengutip laman UMY, ditulis Sabtu (11/7/2026).

 

Tentukan Tujuan dari Lari

Iman pun mengatakan perlu memiliki target ketika berolahraga. Dengan begitu latihan bisa disesuaikan. Misalnya pasien dengan hipertensi atau kelebihan berat badan umumnya dianjurkan melakukan latihan aerobik secara rutin yang diimbangi dengan pengaturan pola makan.

Lalu, ada juga lari dengan target megikuti maraton seperti dirinya beberapa waktu lalu. Pada kondisi itu maka perlu latihan yang lebih spesifik. Berkaca pada yang ia alami, Iman menceritakan tentang maraton pada akhir 2025. Persiapan dilakukan sejak enam bulan sebelumnya melalui latihan kekuatan otot, latihan lari jarak jauh secara bertahap, serta pengaturan pola makan, termasuk strategi carbo loading menjelang hari perlombaan.

“Setiap tujuan memiliki strategi latihan yang berbeda. Karena itu, jangan hanya mengikuti tren, tetapi pahami juga bagaimana cara mencapainya dengan benar,” ujarnya.

Prinsip Olahraga agar Dapat Manfaat Sehat

Iman mengatakan olahraga yang dilakukan secara teratur dan terukur memberikan manfaat yang sangat besar, baik bagi kesehatan fisik maupun mental.

Dari sisi fisik, aktivitas olahraga mampu menurunkan risiko berbagai penyakit tidak menular, seperti diabetes melitus, hipertensi, stroke, hingga penyakit ginjal. Sementara itu, dari aspek psikologis, olahraga terbukti membantu mengurangi tingkat stres, kecemasan, dan depresi.

Manfaat tersebut hanya dapat diperoleh apabila olahraga dilakukan dengan prinsip yang benar.

“Olahraga harus dilakukan secara teratur dan terukur. Di situlah manfaat kesehatannya akan benar-benar dirasakan,” tegasnya.

Mengacu pada rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menganjurkan aktivitas fisik ringan, seperti berjalan kaki selama sedikitnya 30 menit setiap hari. Sementara untuk olahraga aerobik dengan intensitas sedang, seperti lari, WHO merekomendasikan total durasi 150 menit per minggu yang dapat dibagi menjadi lima kali latihan masing-masing 30 menit.

Latihan juga perlu memperhatikan prinsip FITT (Frequency, Intensity, Time, dan Type), yakni frekuensi latihan, intensitas, durasi, serta jenis olahraga yang dilakukan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya