Hernia pada Bayi dan Anak, Ini Jenis yang Paling Sering Terjadi

Bukan hanya orang tua, bayi baru lahir dan anak-anak pun bisa mengalami hernia.

Diterbitkan 11 Juli 2026, 12:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Hernia adalah suatu kondisi ketika jaringan atau organ dalam perut menonjol keluar melalui celah atau bagian otot yang lemah. Kondisi ini bukan hanya terjadi pada orang dewasa tapi bayi baru lahir dan anak pun bisa mengalaminya seperti disampaikan dokter spesialis bedah anak Kozzy.

Pada bayi dan anak, terdapat dua jenis hernia yakni hernia inguinalis (benjolan pada lipat paha, kantong kemaluan pada laki-laki dan area labia pada perempuan) dan hernia umbilikalis (benjolan di pusar).

Dari dua jenis itu, hernia inguinalis yang paling sering terjadi pada anak. Menurut American Academy of Pediatrics, hernia inguinalis pada bayi cukup bulan terjadi sekitar 8 - 50 per 1.000 kelahiran hidup, dengan risiko lebih tinggi pada bayi prematur.

Benjolan hernia kadang hilang dan timbul. Namun, biasanya lebih terlihat saat anak menangis, batuk, mengejan, berdiri, atau aktif bergerak.

Selain benjolan tampak hilang dan timbul, Kozzy mengungkapkan gejala lain dari hernia inguinalis:

  • Benjolan ,engecil saat anak berbaring atau tenang.
  • Anak rewel, tidak nyaman, atau nyeri di sekitar benjolan.
  • Area benjolan kemerahan, membesar, atau terasa keras.
  • Benjolan tidak dapat masuk kembali.
  • Anak muntah, perut kembung, demam, lemas, atau tidak mau makan.

“Bila orangtua mendapati benjolan terasa keras, nyeri, tidak bisa masuk kembali, atau disertai muntah, anak sebaiknya segera dibawa ke fasilitas kesehatan,” kata dokter yang praktik di RS Bethsaida Hospital Gading Serpong Banten itu.

 

Hernia Inguinalis Perlu Ditangani

Kozzy mengatakan hernia inguinalis perlu diperiksa karena umumnya tidak dapat menutup sendiri. Jika dibiarkan, jaringan atau usus yang keluar dapat terjepit di celah hernia.

Kondisi tersebut bisa mengganggu aliran darah dan berisiko menyebabkan nyeri hebat, muntah, perut kembung, hingga kerusakan jaringan yang membutuhkan tindakan segera.

Bila seorang bayi atau anak terdiagnosis hernia inguinalis maka penanganan dilakukan berdasarkan pemeriksaan dokter. Penanganan mempertimbangkan usia anak, ukuran benjolan, gejala, dan komplikasi.

Berbeda dengan hernia umbilikalis, hernia inguinalis umumnya memerlukan operasi. Salah satu prosedur yang dapat dilakukan adalah herniotomy, yaitu tindakan untuk mengembalikan jaringan ke posisi semestinya, lalu menutup celah hernia agar tidak muncul kembali.Pada kasus tertentu, herniotomy dapat dilakukan dengan pendekatan laparoskopi. Teknik ini menggunakan sayatan kecil dan bantuan kamera agar dokter dapat melihat area hernia lebih jelas.

“Pendekatan laparoskopi dapat menjadi pilihan pada kasus tertentu. Namun, setiap anak perlu dinilai secara individual agar tindakan sesuai dengan kondisinya,” kata Kozzy.

Di Bethsaida Hospital Gading Serpong, pemeriksaan dan penanganan hernia inguinalis pada anak dapat dilakukan oleh dokter spesialis bedah anak, sehingga anak bisa mendapatkan evaluasi yang menyeluruh dan komprehensif untuk memastikan diagnosis, menilai risiko, serta menentukan rencana penanganan yang paling tepat.