Bukan Cuma Atlet, Kelompok Ini Juga Berisiko Cedera ACL

Penggemar olahraga yang menuntut gerakan lari lalu berhenti mendadak, lari zigzag, serta gerakan yang memutar rentan mengalami cedera ACL.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 11 Agustus 2026, 17:00 WIB
Ilustrasi padel dan cedera ACL (Photo by Vincenzo Morelli on Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Cedera ACL (anterior cruciate ligament) kerap dikaitkan dengan atlet yang melakukan aktivitas olahraga intensif. Padahal, cedera pada salah satu ligamen penting di lutut ini juga dapat dialami non atlet. Salah satunya orang yang sebelumnya jarang berolahraga, tetapi kemudian mulai melakukan aktivitas fisik dengan intensitas tinggi seperti padel, HYROX, maraton.

"Banyak pasien secara badan belum siap, terutama mereka yang melakukan olahraga high impact terutama yang melibatkan gerakan lari, lari zigzag, pivot atau gerakan berputar. Itu risiko lebih tinggi mengalami cedera ACL," tutur dokter spesialis ortopedi konsultan sports injury, Christian Silas.

Orang yang melakukan aktivitas lain seperti dancer juga dapat mengalami cedera ACL. Terutama ketika melakukan gerakan berputar atau perubahan arah secara cepat.

Guna mencegah agar tak terjadi cedera ACL, Silas mengingatkan masyarakat yang kini tengah rutin berolahraga atau kerap melakukan aktivitas yang menuntut gerakan yang lari kemudian berhenti mendadak dan gerakan memutar untuk melakukan  persiapan sebelum berolahraga. Salah satunya pemanasan sebelum berolahraga atau menari.

"Pemanasan ini membuat tubuh jauh lebih siap, termasuk refleks juga jadi bagus," tuturnya dalam sesi media briefing bersama RS Pondok Indah - Puri Indah pada Selasa (11/8/2026) di Jakarta. 

Cegah Cedera ACL dengan Do

Dokter Silas bicara upaya agar masyarakat umum yang sedang gemar berolahraga tak alami cedera ACL.

Selain itu, Silas juga mengingatkan masyarakat yang lagi getol berolahraga dan juga penari untuk rajin melakukan latihan penguatan otot kaki dan otot inti tubuh atau core.

Latihan dasar seperti squat dan lunges dapat menjadi bagian dari latihan penguatan otot kaki. Namun, latihan sebaiknya disesuaikan dengan jenis olahraga yang dilakukan sehingga otot dan tubuh terbiasa dengan gerakan yang dibutuhkan.

Selain kekuatan otot, fleksibilitas dan teknik melakukan gerakan juga perlu diperhatikan. Dengan persiapan tersebut, tubuh diharapkan lebih siap menghadapi beban dan gerakan yang muncul saat berolahraga.

“Penguatan otot kaki, termasuk bagian depan dan dalam, serta core perlu dilatih. Tekniknya juga perlu dilatih,” kata Christian.

Dengan demikian, olahraga tetap dapat dilakukan secara rutin tanpa mengabaikan kesiapan tubuh. Bagi orang yang baru mulai aktif berolahraga, peningkatan intensitas sebaiknya dilakukan secara bertahap, bukan langsung memaksakan tubuh melakukan aktivitas berat seperti yang dilakukan atlet.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya