Ada 3 Tanda Awal Obesitas yang Bisa Diamati Sendiri, Apa Saja?

Ada 3 tanda awal obesitas yang bisa diamati sendiri. Kenali sebelum terlambat dan muncul penyakit.

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 16 Agustus 2026, 10:00 WIB
Ketua PP PDGKI dr. Erwin Christianto mengingatkan masyarakat untuk tidak menunggu sakit sebelum memperhatikan berat badan. Ada sejumlah perubahan tubuh yang bisa menjadi alarm awal obesitas. (Photo by Towfiqu barbhuiya on Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Obesitas tidak selalu langsung terlihat dari perubahan bentuk tubuh yang drastis. Kondisi ini dapat berkembang secara perlahan sehingga tanda awalnya kerap diabaikan. Padahal, mengenali perubahan sejak dini penting agar penanganan dapat dilakukan sebelum muncul masalah kesehatan lain.

Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI), dr. Erwin Christianto, M.Gizi, Sp.GK, mengatakan, masyarakat sebaiknya tidak menunggu sampai mengalami penyakit untuk mulai memperhatikan kondisi tubuh.

"Yang penting adalah jangan menunggu sakit dulu. Jangan berat badan bertambah terus, terus kolesterol naik," ujar Erwin.

1. Lingkar Perut Bertambah

Salah satu tanda awal yang dapat diamati sendiri adalah perubahan pada lingkar perut. Penumpukan lemak di area perut perlu diperhatikan karena berkaitan dengan risiko gangguan metabolik.

Erwin mengingatkan masyarakat untuk mulai mengamati ukuran lingkar perut. Berdasarkan batas yang digunakan Kementerian Kesehatan, lingkar perut 90 cm atau lebih pada laki-laki dan 80 cm atau lebih pada perempuan termasuk obesitas sentral.

2. Ukuran Celana atau Pakaian Mulai Terasa Sempit

Perubahan ukuran pakaian juga bisa menjadi tanda yang mudah dikenali dalam keseharian.

Celana yang mulai terasa lebih sempit atau kancing baju yang semakin sulit ditutup dapat menjadi alasan untuk mulai mengevaluasi berat badan dan lingkar perut.

"Kalau Anda tiba-tiba pakai baju, kok lengannya jadi sempit, ya? Perutnya kok jadi sempit, ya, di sekitar perut ini? Di kancing baju kok jadi sempit? Nah, itu harus hati-hati," ujar Erwin.

Meski demikian, perubahan ukuran pakaian bukan diagnosis obesitas. Pemeriksaan seperti indeks massa tubuh (IMT) dan lingkar perut tetap diperlukan untuk mendapatkan gambaran yang lebih objektif.

Kementerian Kesehatan juga menempatkan pengukuran IMT dan lingkar perut sebagai bagian dari pemeriksaan status gizi.

3. Berat Badan Terus Bertambah

Tanda lain yang perlu diperhatikan adalah berat badan yang terus meningkat. Erwin menyarankan masyarakat tidak hanya mengandalkan penampilan, tapi mulai rutin menimbang berat badan dan mengukur lingkar perut.

"Setelah itu Anda harus ukur, timbang berat badan, kumpul, lingkar perut," katanya.

Menurut Kemenkes RI, obesitas merupakan kondisi kompleks yang dipengaruhi berbagai faktor, termasuk pola makan, aktivitas fisik, genetik, hormonal, dan faktor lainnya. Oleh sebab itu, penanganannya tidak cukup hanya dengan mengurangi porsi makanan.

Erwin menekankan pentingnya melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Masyarakat juga dapat memanfaatkan program Cek Kesehatan Gratis untuk mengetahui kondisi seperti gula darah dan kolesterol.

"Jadi yang penting adalah jangan menunggu sakit dulu," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya