Ikut Tips Diet yang Seliweran di Media Sosial, Ini Risikonya bagi Tubuh

Dokter ungkap risiko kekurangan nutrisi bila menurunkan berat badan tanpa pendampingan tenaga medis termasuk yang bermodal ikut tips diet di media sosial.

Diterbitkan 28 September 2026, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bagi orang yang memiliki berat badan berlebih atau obesitas dan ingin menurunkan berat badan, ada yang langsung tancap gas dengan mengubah pola makan. Ada pula yang memilih mengikuti tips diet yang berseliweran di media sosial.

Padahal, pola diet yang berhasil pada satu orang belum tentu sesuai untuk orang lain. Kebutuhan kalori dan nutrisi setiap orang dapat berbeda, sehingga menerapkan pola makan hanya berdasarkan pengalaman orang lain berisiko membuat asupan yang dibutuhkan tubuh tidak terpenuhi.

Dokter spesialis gizi klinik Karina Marcella mengatakan salah satu masalah yang dapat terjadi ketika seseorang ketika mengikuti tips diet dari media sosial atau internet adalah tidak mengetahui kebutuhan kalori tubuhnya secara tepat.

Menurutnya, cara menghitung kebutuhan kalori yang ditemukan di internet belum tentu sesuai dengan kondisi setiap orang. Jika jumlah kalori yang dikonsumsi tidak sesuai kebutuhan, penurunan berat badan pun dapat terhambat. Sebaliknya, memangkas asupan kalori terlalu banyak juga bukan berarti berat badan akan turun dengan cara yang lebih sehat.

"Kalau konsumsi makanan tidak sesuai kalorinya, ya berat badannya bakal sulit turun. Atau, mengonsumsi makanan dengan kalori terlalu sedikit, itu bahaya. Yang biasanya makan 2.000 kalori lalu langsung cut jadi 500 kalori, wah itu bisa nanti masuk IGD," kata Karin dalam Halofit Firs Anniversary di Jakarta.

Rambut Rontok hingga Gangguan Hormonal

Diet yang terlalu ketat dan tidak memenuhi kebutuhan tubuh juga dapat menimbulkan berbagai perubahan pada tubuh.

Kari menyebut gangguan hormonal dapat terjadi, termasuk pada perempuan yang kemudian mengalami perubahan atau gangguan menstruasi. Rambut rontok juga dapat menjadi salah satu keluhan ketika tubuh tidak mendapatkan asupan yang cukup.

Karena itu, kata Karin, program penurunan berat badan sebaiknya tidak hanya mengejar penurunan angka di timbangan tapi juga tubuh yang sehat.

Alih-alih ikut-ikutan pola diet orang lain, Karin mengatakan pengelolaan berat badan perlu dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi tubuh secara menyeluruh.

"Dalam menjalani program weight management, penting untuk memahami kondisi tubuh secara menyeluruh dengan memperhatikan berat badan, BMI, lingkar pinggang, serta komposisi tubuh di mana persentase massa lemak tubuh sebaiknya tidak melebihi 25% pada laki-laki dan 30% pada perempuan," pesannya. 

Selain itu, penting untuk menetapkan target yang realistis, membangun pola makan seimbang, serta menjaga aktivitas fisik dan tidur yang cukup. Perlu diingat bahwa kenaikan kembali berat badan dapat terjadi dan bukan berarti seseorang gagal.

"Bila diperlukan, jangan ragu mencari pendampingan tenaga medis khususnya dokter spesialis gizi untuk mendapatkan pendekatan yang sesuai," pesan Karin.

 

Â