Liputan6.com, Jakarta - Dinas Kesehatan DKI Jakarta terus memperkuat layanan hepatitis, mulai dari skrining, pencegahan, hingga pengobatan. Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan akses masyarakat sekaligus menekan prevalensi hepatitis di Jakarta.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Sri Puji Wahyuni, mengatakan peningkatan akses layanan harus diikuti dengan peningkatan kualitas pelayanan.
Advertisement
"Utamanya, ketika akses dibuka, berarti kualitas layanan yang harus kita tingkatkan sama-sama. Di tahun 2025, Jakarta merupakan salah satu provinsi terbaik untuk pelayanan hepatitis," kata Sri dikutip dari Antara pada Rabu, 9 September 2026.
Sri menjelaskan bahwa layanan pencegahan atau profilaksis hepatitis saat ini tersedia di 10 fasilitas kesehatan di Jakarta. Layanan tersebut terdiri dari lima puskesmas dan lima rumah sakit.
Sementara itu, skrining hepatitis telah tersedia di seluruh puskesmas dan rumah sakit di wilayah Jakarta.
"Skrining sudah dilakukan di seluruh puskesmas maupun rumah sakit, tetapi untuk layanan pencegahan profilaksis di 2023 itu hanya 10 layanan, yang terdiri dari lima puskesmas dan lima rumah sakit," ujar Sri.
Perluasan layanan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah agar masyarakat dapat memperoleh penanganan hepatitis secara lebih mudah dan menyeluruh.
Tidak hanya skrining dan pencegahan, akses pengobatan hepatitis juga terus diperluas. Hingga 2026, layanan pengobatan hepatitis telah tersedia di 61 fasilitas kesehatan di wilayah Jakarta.
Hepatitis adalah peradangan pada hati yang dapat disebabkan oleh infeksi virus maupun faktor noninfeksi. Kondisi ini tidak selalu menimbulkan gejala pada tahap awal. Namun, pada sebagian orang dapat berkembang menjadi kerusakan hati berat, sirosis, hingga kanker hati, seperti dikutip dari situs resmi WHO.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut terdapat lima jenis utama virus hepatitis, yaitu hepatitis A, B, C, D, dan E. Masing-masing memiliki karakteristik berbeda, termasuk cara penularan, tingkat keparahan, persebaran, serta metode pencegahannya.
"Hepatitis adalah peradangan pada hati yang disebabkan oleh berbagai virus infeksi maupun agen noninfeksi dan dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, termasuk kerusakan hati berat dan kanker," demikian penjelasan WHO dalam laman resminya.
Hepatitis B dan C Berisiko Picu Sirosis serta Kanker Hati
Di antara lima jenis hepatitis, hepatitis B dan C menjadi perhatian khusus karena dapat menyebabkan infeksi kronis dan dalam jangka panjang memicu sirosis serta kanker hati.
WHO memperkirakan sekitar 304 juta orang di dunia hidup dengan hepatitis B atau C. Pada 2024, kedua penyakit tersebut menyebabkan sekitar 1,3 juta kematian secara global, terutama akibat sirosis dan kanker hati.
Hepatitis B dapat menyebabkan infeksi akut maupun kronis. Virus ini dapat menular dari ibu kepada bayi saat persalinan, kontak dengan darah atau cairan tubuh yang terinfeksi, serta melalui hubungan seksual dengan pasangan yang terinfeksi. Vaksin hepatitis B yang aman dan efektif tersedia untuk mencegah penyakit tersebut.
Sementara itu, hepatitis C juga dapat berkembang menjadi infeksi kronis dan menyebabkan sirosis atau kanker hati. Berbeda dengan hepatitis B, hingga kini belum tersedia vaksin untuk hepatitis C. Namun, obat antivirus dapat menyembuhkan lebih dari 95 persen orang yang terinfeksi hepatitis C.
Kenali Gejala Hepatitis yang Sering Tidak Disadari
Salah satu tantangan hepatitis adalah banyak penderita tidak menyadari dirinya terinfeksi. WHO menyebut sebagian besar orang dengan hepatitis A, B, C, D, atau E hanya mengalami gejala ringan atau bahkan tidak memiliki gejala sama sekali.
Ketika muncul, gejala hepatitis dapat berupa demam, tubuh terasa lemas, kehilangan nafsu makan, mual, diare, rasa tidak nyaman pada perut, urine berwarna gelap, hingga penyakit kuning yang ditandai dengan kulit dan bagian putih mata menguning.
Hepatitis B, C, dan D dapat menyebabkan infeksi hati kronis. Jika tidak ditangani, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi sirosis atau kanker hati.
Hepatitis D memiliki karakteristik berbeda karena hanya dapat menginfeksi orang yang sudah mengalami hepatitis B. Infeksi ganda hepatitis B dan D dapat menyebabkan penyakit yang lebih berat serta mempercepat perkembangan sirosis dan kanker hati.
Hepatitis Bisa Dicegah dan DiobatiTidak semua hepatitis berujung pada kondisi kronis. Hepatitis A dan E umumnya menyebabkan infeksi akut dan sebagian besar penderitanya dapat pulih sepenuhnya. Namun, kedua penyakit tersebut tetap dapat menyebabkan kondisi berat, termasuk gagal hati.
Pencegahan menjadi langkah penting untuk menekan risiko hepatitis. Vaksinasi hepatitis B, menjaga kebersihan dan keamanan makanan serta air, menghindari paparan darah yang terkontaminasi, serta melakukan pemeriksaan ketika berisiko dapat membantu mencegah penularan.
WHO menegaskan bahwa hepatitis dapat dicegah dan ditangani dengan berbagai intervensi yang tersedia. Karena itu, deteksi dini dan akses terhadap pengobatan menjadi kunci untuk mencegah hepatitis berkembang menjadi penyakit hati yang lebih serius.