Bukan Sekadar Duduk Main Game, Atlet ESports Juga Wajib Latihan Beban

Atlet esports tak hanya mengandalkan jari dan mata, latihan beban penting untuk menjaga kebugaran.

oleh Kanaya Nanda PutriDiterbitkan 16 September 2026, 06:00 WIB
Coach Maleaky Patty mengatakan atlet esports mengikuti latihan fisik dan beban untuk meningkatkan kebugaran, kekuatan, serta mendukung performa saat bertanding dalam kompetisi tingkat tinggi. (Liputan6.com/Kanaya Nanda Putri)

Liputan6.com, Jakarta - Pandangan awam kerap menilai Esports hanya sebagai aktivitas duduk di depan layar yang mengandalkan kejelian mata dan kecepatan gerak jemari. Padahal, di balik kompetisi tingkat tinggi, ketahanan dan kebugaran fisik sama pentingnya bagi atlet esports seperti halnya atlet olahraga konvensional.

Salah satu pelatih fisik Timnas Esports Indonesia, Coach Maleaky Patty, mengungkapkan, masih banyak pertanyaan mengenai pentingnya latihan fisik bagi atlet.

Menurut pria yang akrab disapa Eky, salah satu persoalan yang kerap diabaikan adalah kondisi fisik awal para atlet muda saat pertama kali mengikuti pemusatan latihan.

Selain kemampuan teknis yang mengandalkan jari dan mata, postur tubuh serta kebugaran organ dalam juga perlu diperhatikan dan dipertahankan.

Berdasarkan observasinya, Eky menemukan kondisi fisik sejumlah atlet muda yang jauh dari kata bugar. Kondisinya beragam, mulai dari tubuh yang sangat ramping hingga berat badan berlebih.

"Pada saat saya observasi ternyata mereka punya postural, contohnya, mereka banyak (mengalami) skoliosis, padahal masih muda banget, 12 tahun. Ada yang 16 tahun sudah ada yang mulai merambat ke diabetes, itu kan agak muda. Nah, akhirnya di situ kami mengobservasi bahwa ternyata mereka butuh menaikkan kebugaran," ujar Eky di acara Pengurus Besar Esports Indonesia (PBESI) bersama Salonpas di Jakarta pada Selasa (15/9/2026).

Untuk mengatasi masalah postur tubuh sekaligus mendukung performa bertanding, program pemusatan latihan Timnas Esports Indonesia menerapkan pendekatan sports science yang terukur.

Kurikulum latihan fisik tidak diberikan secara asal. Program diawali dengan analisis kondisi tubuh dan fleksibilitas masing-masing atlet secara individu.

Menurut Eky, meningkatkan kebugaran menjadi salah satu kunci penting bagi atlet. Salah satu langkah awal yang dilakukan adalah memperkenalkan area gym serta cara menggunakan berbagai alat di dalamnya.

"Sebenarnya yang kami lakukan juga adalah kami memperkenalkan, yang paling simpel adalah bagaimana cara nge-gym. Bagaimana cara memakai alat, gitu awalnya," kata Eky.

Program latihan kemudian membagi fokus peningkatan kondisi fisik ke dalam beberapa komponen penting, seperti fleksibilitas, mobilitas, kekuatan, dan daya tahan.

"Dari jadwal yang kita dapatkan biasanya anak-anak itu ada (latihan) fleksibilitas, mobilitas, strength, endurance, itu jam 9 pagi. Setelahnya baru masuk ke gym secara kelompok. Targetnya sekali seminggu, tapi sekarang setelah saya ngobrol sama mereka (para atlet), mereka sudah melakukan latihan sendiri dua sampai tiga kali (seminggu). Itu sudah sangat progress untuk anak esports," ujar Eky.

 

Penurunan Ukuran Tubuh hingga Meningkatnya Massa Otot

Penerapan latihan fisik secara disiplin dan pembiasaan berolahraga di gym membawa dampak terhadap kondisi fisik para atlet.

Dalam beberapa bulan pelatihan terstruktur, terjadi perubahan fisik yang terukur, baik pada atlet yang mengalami kelebihan berat badan maupun mereka yang memiliki postur terlalu kurus.

Coach Eky mencatat bahwa atlet yang memiliki masalah berat badan mampu mengurangi ukuran lingkar tubuh hingga 10-12 sentimeter dalam waktu dua bulan. Sementara itu, atlet yang sebelumnya terlalu kurus berhasil meningkatkan massa otot hingga 7 kilogram.

Salah satu contoh perubahan tersebut terlihat pada atlet nasional di bawah bimbingannya, Syauki Nino. Kemampuan fisik dan kekuatan angkat bebannya meningkat secara drastis seiring bertambahnya massa otot.

"Gimana sih caranya kita tahu massa otot naik atau nggak? Biasanya kalau saya melihat itu dari angkatan beban. Biasanya, yang bisa mengangkat beban itu adalah massa otot, bukan massa lemak," kata Eky.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya