Teknologi Neuroscience Buka Era Baru Penanganan Stroke di Indonesia

Stroke jadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Kecepatan dan teknologi penting dalam penanganannya.

oleh Kanaya Nanda PutriDiterbitkan 23 September 2026, 16:18 WIB
Pakar bedah saraf Prof. Dr. dr. Julius July, Sp.BS (K), M.Kes, IFAANS, menekankan pentingnya inovasi, teknologi, dan kolaborasi multidisiplin untuk menghadirkan penanganan stroke yang aman. (Credits: unsplash.com)

Liputan6.com, Jakarta - Stroke bukan hanya menjadi ancaman bagi kesehatan, tapi juga salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, sekitar 337.000 orang meninggal akibat stroke setiap tahunnya.

Dari sisi prevalensi, data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan angka yang cukup tinggi, yakni mencapai 8,3 per 1.000 penduduk. 

Pakar bedah saraf, Prof. Dr. dr. Julius July, Sp.BS (K), M.Kes, IFAANS, mengatakan, perkembangan ilmu saraf atau neuroscience perlu diterjemahkan menjadi pelayanan medis yang nyata, aman, dan memberikan manfaat bagi pasien.

"Kemajuan neuroscience bukan hanya tentang seberapa jauh teknologi berkembang, tapi bagaimana perkembangan tersebut dapat diterjemahkan menjadi pelayanan yang lebih tepat, aman, dan memberikan hasil yang lebih baik bagi pasien. Dalam 30 tahun terakhir, kami melihat bagaimana perkembangan ilmu, teknik bedah, teknologi, dan kolaborasi multidisiplin mengubah penanganan berbagai kasus neurologis," kata Julius.

Hal tersebut disampaikan dalam acara The 2nd Siloam Neuroscience Summit 2026 bertema “Beyond Boundaries: Unlocking a New Era of Neuroscience” di Jakarta belum lama ini.

Kecepatan Penanganan Jadi Kunci

Pada kasus stroke iskemik akut, yaitu stroke yang terjadi akibat penyumbatan pembuluh darah di otak, waktu menjadi faktor yang sangat menentukan.

Setiap penundaan tindakan dapat berdampak serius terhadap kerusakan jaringan otak pasien. Oleh sebab itu, kata Julius, efektivitas penanganan sangat bergantung pada kecepatan respons darurat, ketepatan diagnosis, serta ketersediaan protokol klinis yang terstandar atau stroke pathway.

Protokol stroke pathway yang terintegrasi memastikan pasien mendapatkan penanganan secara holistik dan komprehensif, mulai dari pemeriksaan penunjang awal, tindakan intervensi medis darurat, hingga tahap pemulihan saraf.

Seiring pesatnya perkembangan neuroscience, penanganan stroke akut kini dapat dilakukan melalui berbagai prosedur tingkat lanjut.

Salah satu tindakan utama pada serangan stroke akut adalah prosedur neurointervensi, termasuk terapi medis yang berfokus pada penghancuran dan pengangkatan sumbatan pembuluh darah otak untuk memulihkan aliran darah dengan cepat.

Selain penanganan stroke akut, layanan neurologi dan bedah saraf juga mencakup Awake Brain Surgery. Teknik medis ini merupakan prosedur bedah saraf kompleks dengan tingkat presisi tinggi yang melibatkan pendekatan multidisiplin.

Dalam prosedur tersebut, pasien tetap dalam kondisi sadar pada tahap tertentu selama operasi. Hal ini memungkinkan tim medis melakukan pemantauan fungsi saraf secara langsung.

Kolaborasi Multidisiplin Perkuat Penanganan

 

Caroline Riady, CEO Siloam International Hospitals.

Selain kecepatan tindakan, keberhasilan penanganan kasus stroke juga membutuhkan sinergi dan kolaborasi lintas disiplin.

Integrasi teknologi dalam penanganan stroke melibatkan berbagai tenaga kesehatan, mulai dari dokter spesialis saraf (neurolog), dokter spesialis bedah saraf (neurosurgeon), perawat, hingga tim medis pendukung lainnya.

Chief Executive Officer (CEO) Siloam International Hospitals, Caroline Riady, mengatakan, investasi pada keahlian medis dan kolaborasi menjadi kunci dalam memperkuat ekosistem neuroscience di Indonesia.

"Perjalanan ini tidak hanya membangun keunggulan klinis, tapi juga berkontribusi pada pengembangan ekosistem neuroscience melalui pendidikan dan penelitian," katanya.

Lebih lanjut, Caroline, menambahkan,"Kami percaya bahwa kemajuan di bidang ini ditentukan tidak hanya oleh teknologi, tapi juga oleh kompetensi tenaga kesehatan dan kemampuan menghadirkan inovasi yang berdampak bagi pasien."

Integrasi antara protokol terstandar, kesiapan tim multidisiplin, serta pemanfaatan teknologi medis terkini menjadi tumpuan dalam meningkatkan kelangsungan hidup dan kualitas pemulihan pasien stroke di Indonesia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya