Liputan6.com, Jakarta - Kopi kerap dianggap sebagai minuman yang perlu dihindari ketika seseorang mengalami masalah kesehatan. Namun, pasien fatty liver atau hati berlemak tetap bisa menikmati kopi murni alias tanpa gula atau krimer.
"Yang menarik dalam rekomendasi pengobatan fatty liver, masuk rekomendas kopi. Maksimal tiga cangkir sehari," tutur Dr dr Irsan Hasan, SpPD-KGEH, FINASIM, FACG dari Eka Hospital MT Haryono dalam temu media pada Selasa (27/10/2026).
Advertisement
Irsan mengungkapkan sejumlah penelitian menunjukkan pasien fatty liver yang minum kopi ternyata progresi menjadi sirosis lebih rendah daripada yang tidak minum kopi. Sirosis adalah kondisi medis kronis di mana jaringan hati yang sehat rusak, mati, dan digantikan oleh jaringan parut (fibrosis) secara permanen.
Meski begitu, Irsan mengatakan bahwa penelitian tersebut jenis retrospektif yang memiliki keterbatasan. Penelitian retrospektif melihat kembali kebiasaan atau riwayat pasien setelah kondisi kesehatannya diketahui, sehingga tidak dapat langsung membuktikan bahwa kopi menjadi penyebab turunnya risiko sirosis.
"Kalau biasa minum kopi terus sakit liver, ya terusin aja minum kopinya," tutur Penasihat Pengurus Besar Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) ini.
Meski begitu, bukan berarti orang yang tidak biasa minum kopi jadi mesti mengonsumsinya. "Kalau terus minum kopi lalu berdebar-debar karena tidak biasa minum kopi, ya sudah enggak usah dipaksain minum kopi," tuturnya.
Ia juga mengingatkan bahwa informasi mengenai manfaat kopi perlu dipahami secara tepat. Hubungan antara konsumsi kopi dan risiko sirosis yang lebih rendah tidak otomatis berarti kopi dapat mengobati penyakit hati atau menggantikan penanganan medis.
Pasien fatty liver atau penyakit hati berlemak tetap perlu berkonsultasi dengan dokter mengenai kondisi kesehatannya dan langkah penanganan yang sesuai.
Konsumsi kopi juga tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan pengobatan maupun perubahan gaya hidup yang dianjurkan tenaga medis.