Banyak Orang Hindari Telur karena Kolesterol, Padahal Bisa Turunkan Risiko Pikun

Tak sedikit orang menjauhi telur karena kolesterol, padahal kandungannya disebut baik untuk otak.

Diterbitkan 13 Mei 2026, 13:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Telur selama bertahun-tahun kerap dianggap sebagai 'musuh' bagi kesehatan karena kandungan kolesterolnya. Tak sedikit orang akhirnya memilih membatasi konsumsi telur demi menjaga kadar kolesterol tetap aman.

Padahal, penelitian terbaru justru menunjukkan bahwa konsumsi telur dalam jumlah moderat dapat memberikan manfaat bagi kesehatan otak, bahkan dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit Alzheimer atau pikun pada lansia.

Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal The Journal of Nutrition oleh peneliti dari Loma Linda University Health, seperti dikutip dari Medical News Today pada Rabu, 13 Mei 2026.

Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan menganalisis data lebih dari 39 ribu orang dewasa yang tergabung dalam Adventist Health Study-2 (AHS-2).

Hasilnya menunjukkan bahwa orang yang mengonsumsi telur setidaknya lima kali dalam seminggu memiliki risiko hingga 27 persen lebih rendah terkena Alzheimer dibandingkan mereka yang tidak makan telur sama sekali.

Tak hanya itu, konsumsi telur satu sampai tiga kali per bulan juga dikaitkan dengan penurunan risiko Alzheimer sebesar 17 persen. Sementara konsumsi dua sampai empat kali per minggu dikaitkan dengan penurunan risiko hingga 20 persen.

Penulis utama penelitian, Jisoo Oh, mengatakan, penelitian ini dilakukan untuk memahami lebih jauh faktor risiko Alzheimer yang masih bisa dimodifikasi melalui gaya hidup dan pola makan.

"Banyak perhatian tertuju pada pengaruh nutrisi terhadap kesehatan otak, tapi masih ada kekurangan pengetahuan terkait makanan tertentu, termasuk telur," ujar Jisoo.

Menurutnya, telur mengandung sejumlah nutrisi penting yang berhubungan dengan fungsi otak. Mulai dari kolin, lutein, zeaxanthin, omega-3, vitamin B12, hingga protein berkualitas tinggi.

Kolin sendiri berperan penting dalam pembentukan asetilkolin, yaitu neurotransmiter yang berkaitan dengan daya ingat.

Sementara lutein dan zeaxanthin diketahui dapat membantu melindungi otak dari stres oksidatif yang berkaitan dengan penuaan dan penurunan fungsi kognitif.

Omega-3 dan DHA dalam telur juga penting untuk menjaga struktur serta fungsi sel saraf di otak.

"Nutirisi-nutrisi ini kemungkinan membantu menjaga koneksi antarsel otak, mengurangi peradangan, dan mendukung daya tahan fungsi kognitif," ujar Jisoo.

 

 

Batasan Aman Makan Telur

Meski begitu, ia menegaskan bahwa telur bukanlah solusi tunggal untuk mencegah pikun. "Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa memasukkan telur ke dalam pola makan seimbang mungkin bermanfaat bagi kesehatan otak, tetapi telur tidak boleh dipandang sebagai 'obat ajaib'," kata Jisoo.

Dia menyarankan konsumsi telur tetap dilakukan dalam jumlah moderat dan menjadi bagian dari pola makan sehat secara keseluruhan.

Di sisi lain, ahli gizi preventif dari EntirelyNourished, Michelle Routhenstein, mengingatkan, manfaat telur untuk otak tetap perlu dilihat dalam konteks pola makan dan kondisi kesehatan masing-masing orang.

Menurutnya, kelompok peserta penelitian memang dikenal memiliki gaya hidup yang relatif sehat, seperti lebih banyak makan makanan nabati, jarang merokok, dan memiliki risiko penyakit metabolik yang lebih rendah.

"Ketika kita melihat konsumsi telur dikaitkan dengan risiko Alzheimer yang lebih rendah, kita sebenarnya sedang melihat telur sebagai bagian dari pola makan sehat secara keseluruhan," kata Michelle.

Dia juga mengingatkan bahwa telur tetap mengandung lemak jenuh dan kolesterol. Pada sebagian orang yang sensitif terhadap kolesterol makanan atau disebut cholesterol hyper-responders, konsumsi kuning telur berlebihan bisa meningkatkan kadar LDL atau kolesterol jahat lebih signifikan.

Oleh sebab itu, konsumsi telur tetap perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan individu.

 

Ganti Telur dengan Makanan Lain

Bagi orang yang tidak mengonsumsi telur, kebutuhan nutrisi untuk kesehatan otak sebenarnya tetap bisa dipenuhi dari makanan lain.

Michelle menyebut kolin bisa diperoleh dari kedelai, quinoa, kacang merah, hingga kubis brussel. Sementara lutein dan zeaxanthin banyak ditemukan dalam sayuran hijau gelap.

"Sebagian besar nutrisi dalam telur sebenarnya juga bisa ditemukan dalam pola makan nabati yang dirancang dengan baik," katanya.

Meski hasil penelitian ini cukup menjanjikan, para peneliti menegaskan bahwa studi tersebut masih bersifat observasional sehingga belum dapat membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung.

Namun, temuan ini menjadi pengingat bahwa telur tidak selalu harus dipandang buruk hanya karena kandungan kolesterolnya.

Dalam jumlah yang tepat dan dikombinasikan dengan pola makan sehat, telur justru bisa menjadi salah satu sumber nutrisi penting untuk menjaga kesehatan otak seiring bertambahnya usia.