Liputan6.com, Jakarta - Bagi Robert Walker, sunat bukan sekadar keputusan untuk mengubah kondisi tubuh. Pria ini baru menjalani prosedur tersebut pada usia 25 tahun setelah bertahun-tahun menghadapi fimosis yang membuat aktivitas sehari-harinya terasa tidak nyaman.
Walker mulai menyadari ada yang berbeda sejak memasuki usia awal belasan tahun. Saat mengalami ereksi, dia mendapati kulit kulup pada penisnya tidak dapat ditarik melewati kepala penis atau glans.
Kondisi tersebut kemudian diketahui sebagai fimosis, yakni keadaan ketika kulup terlalu ketat sehingga sulit atau tidak dapat ditarik ke belakang melewati glans. Pengalaman tersebut Walker bagikan melalui platform TikTok dan kemudian diberitakan BuzzFeed, dikutip Selasa (11/8/2026).
Advertisement
Bagi Walker, fimosis bukan sekadar persoalan fisik. Kondisi tersebut turut memengaruhi kehidupan sehari-hari, hubungan dengan pasangan, hingga cara dirinya menjaga kebersihan.
Fimosis Mengganggu Aktivitas Sehari-hari
Walker mengatakan bahwa setiap kali mencoba menarik kulup, dia merasakan seperti mengalami 'sobekan halus atau luka kecil'.
Rasa tidak nyaman tersebut membuatnya harus lebih berhati-hati ketika beraktivitas maupun berhubungan dengan pasangan.
Dia bahkan merasa perlu menjelaskan kepada pasangannya mengenai hal-hal yang harus dihindari agar tidak memicu rasa sakit.
"Saya merasa terbatas, baik secara fisik maupun mental, saat harus berbicara dengan pasangan dan harus menjelaskan agar mengerti," ujar Walker.
Masalah lainnya muncul ketika ia harus menjaga kebersihan penis. Walker mengaku membutuhkan usaha lebih setiap kali membersihkan diri setelah buang air kecil.
"Saya sangat lelah karena harus melakukan upaya ekstra untuk membersihkan diri setiap kali buang air kecil," katanya.
Memilih Sunat di Usia 25 Tahun
Setelah bertahun-tahun hidup dengan kondisi tersebut, Walker akhirnya memutuskan menjalani sunat ketika berusia 25 tahun.
Fimosis sendiri tidak selalu membutuhkan sunat. Penanganannya bergantung pada penyebab dan tingkat keparahan kondisi.
Namun, pada kasus tertentu, dokter dapat merekomendasikan prosedur sunat apabila penanganan lain tidak berhasil atau kondisi terus menimbulkan masalah.
Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa sunat pada orang dewasa dapat lebih kompleks dibandingkan prosedur pada bayi baru lahir.
Prosedur umumnya berlangsung sekitar 30 menit hingga satu jam dan dapat dilakukan dengan anestesi lokal maupun umum.
Dokter akan mengangkat bagian kulup yang menutupi kepala penis. Setelah itu, sisa kulit ditutup kembali, baik dengan kauterisasi maupun jahitan menggunakan benang yang dapat larut dengan sendirinya.
Walker membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat minggu untuk menjalani pemulihan. Namun, ia mengatakan proses tersebut ternyata tidak seberat yang sebelumnya dibayangkan.
"Proses pemulihannya ternyata lebih mudah daripada yang saya bayangkan," ujarnya.
Sekitar satu bulan setelah operasi, Walker mengaku sudah dapat kembali bekerja dengan nyaman.
Merasa Lebih Percaya Diri setelah Sunat
Walker juga mengaku puas dengan hasil prosedur yang dijalaninya. Setelah kulup diangkat, ia merasa lebih percaya diri dengan kondisi tubuhnya.
"Sekarang karena bagian kepalanya sudah terlihat, saya merasa sangat percaya diri dan bahagia,"Â katanya.
Fimosis umumnya ditemukan pada bayi dan anak-anak. Pada banyak kasus, kondisi tersebut dapat membaik secara alami seiring pertumbuhan. Namun, fimosis yang menetap hingga dewasa dapat menimbulkan keluhan dan memerlukan evaluasi medis.
Sunat sendiri dilakukan dengan berbagai alasan di berbagai belahan dunia, mulai dari faktor budaya dan agama hingga pertimbangan kesehatan. Dalam agama Islam, sunat merupakan praktik yang dianjurkan bagi laki-laki.
Dari sisi kesehatan, sunat juga dikaitkan dengan sejumlah manfaat, termasuk membantu menjaga kebersihan penis. Kulit kulup dapat memerangkap bakteri, keringat, dan zat lainnya sehingga kebersihan yang kurang terjaga dapat meningkatkan risiko masalah pada area tersebut.
Jika mengalami kesulitan menarik kulup, nyeri, luka, atau keluhan lain pada penis, pemeriksaan oleh dokter diperlukan untuk mengetahui penyebab dan menentukan penanganan yang tepat.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5158887/original/014385400_1741675894-cek_fakta_pasukan_oranye.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9308116/original/010825900_1785129339-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-27T121435.797.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9321375/original/053314000_1786440887-cek_fakta_-_cpns_menpan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9312818/original/023895500_1785560927-WhatsApp_Image_2026-08-01_at_12.01.08.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5305238/original/054768100_1754299681-philippe-spitalier-kA9901YPOCk-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260392/original/012414300_1781591330-Screenshot_2026-06-16_132443.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260391/original/008993600_1781591330-WhatsApp_Image_2026-06-16_at_1.19.36_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582930/original/051584700_1778132610-Screenshot_2026-05-07_124249.jpg)