Dokter Ikhsanuddin Qoth’i Beberkan Alasan Lari Bisa Bikin Bahagia

dr Ikhsanuddin Qoth’i ungkap efek lari pada hormon yang bikin tubuh lebih bahagia dan sehat.

Diterbitkan 18 Juni 2026, 15:41 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tren lari yang semakin populer di Indonesia tidak hanya dipicu oleh gaya hidup atau FOMO semata. Lebih dari itu, olahraga ini ternyata punya dampak langsung terhadap kesehatan mental. Dokter umum sekaligus kreator konten kesehatan, dr. Ikhsanuddin Qoth’i mengungkap bahwa lari bisa membuat seseorang merasa lebih bahagia karena melibatkan respons biologis di dalam tubuh.

"Kalau kita ngomongin olahraga, kita nggak bisa memisahkan antara mind and body. Pikiran dan tubuh itu saling berhubungan. Kalau pikiran sehat, tubuh ikut sehat, begitu juga sebaliknya," ujar Ikhsan di konferensi pers Brookfarm Almond Run 2026 pada Kamis (18/6/2026) 

Menurutnya, aktivitas fisik seperti lari memicu pelepasan hormon-hormon kebahagiaan seperti endorfin, dopamin, dan serotonin. Ketiga hormon ini berperan besar dalam meningkatkan suasana hati dan membuat seseorang merasa lebih rileks setelah berolahraga.

"Ada hormon endorfin, dopamin, dan serotonin yang keluar saat kita berolahraga. Ini yang kemudian berakumulasi dan membuat kita merasa lebih bahagia dan lebih sehat," katanya.

Fenomena meningkatnya minat masyarakat terhadap lari, terutama sejak pandemi COVID-19, dinilai sebagai perkembangan positif.

Banyak orang kini mulai sadar pentingnya menjaga kesehatan dan menjadikan olahraga sebagai bagian dari rutinitas harian. "Tren ini sebenarnya bagus banget. Apalagi sejak COVID-19, orang jadi lebih sadar akan kesehatannya," tambahnya.

Namun, Ikhsan menegaskan bahwa olahraga tidak hanya soal penampilan fisik atau penurunan berat badan. Lebih jauh, lari merupakan kebutuhan dasar manusia untuk menjaga kualitas hidup secara menyeluruh.

"Olahraga itu bukan hanya rekreasional, tapi kebutuhan manusia supaya kualitas hidupnya lebih baik," katanya.

 

Lari Bisa Melepas Hormon Stres

Selain faktor hormon, lari juga membantu mengurangi stres, meningkatkan kualitas tidur, serta memperbaiki fokus dan energi harian. Kombinasi efek fisik dan mental inilah yang membuat banyak orang merasa lebih 'ringan' dan bahagia setelah berlari.

Meski demikian, dia mengingatkan bahwa konsistensi menjadi kunci utama. Lari tidak harus dilakukan dengan intensitas tinggi, tapi yang terpenting adalah dilakukan secara rutin dan disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing.

"Yang penting itu bukan seberapa cepat atau jauh kita lari, tapi bagaimana kita menjadikannya kebiasaan yang konsisten," ujarnya.

Dengan semakin banyaknya masyarakat yang mulai menjadikan lari sebagai gaya hidup, Ikhsan berharap kesadaran akan pentingnya kesehatan fisik dan mental juga ikut meningkat.

Olahraga sederhana seperti lari, menurutnya, bisa menjadi langkah awal untuk hidup yang lebih sehat dan seimbang.

"Pada akhirnya, tubuh dan pikiran kita akan saling mendukung. Dan lari adalah salah satu cara paling sederhana untuk memulainya," pungkasnya.