Gigi Ompong Tak Lagi Identik dengan Lansia, Remaja Juga Mengalaminya

Gigi ompong tak lagi identik dengan lansia. Remaja juga mengalaminya akibat sejumlah masalah gigi.

Diterbitkan 17 September 2026, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kondisi gigi ompong atau tanggal umumnya identik dengan kelompok lanjut usia (lansia). Namun, kehilangan gigi kini tidak lagi mengenal batasan usia. Kondisi ini bahkan sudah ditemukan pada kelompok remaja dan dewasa muda.

Wakil Ketua Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PBPDGI), drg. Tari Tritarayati, SH., MH.Kes., mengatakan kehilangan gigi menjadi salah satu dari tiga masalah gigi dan mulut yang banyak ditemukan di masyarakat.

Hal tersebut berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) serta Cek Kesehatan Gratis (CKG), seperti disampaikan Tari di sela konferensi pers Peresmian Bulan Kesehatan Nasional 2026 di Jakarta, Kamis (17/9/2026).

Menurut Tari, karies atau gigi berlubang menjadi masalah gigi dan mulut yang paling banyak ditemukan. Posisi berikutnya adalah penyakit periodontal yang berkaitan dengan jaringan di sekitar gusi serta ketidakseimbangan mikrobioma mulut.

Setelah itu, masalah kehilangan gigi menempati posisi ketiga. Kondisi ini tidak hanya ditemukan pada lansia, tetapi juga pada kelompok usia yang lebih muda, termasuk remaja.

"CKG itu menunjukkan paling tinggi adalah karies, itu gigi berlubang. Kedua, masalah penyakit periodontal, sekitar gusi, atau ketidakseimbangan mikrobioma (mulut). Kemudian yang ketiga adalah masalah kehilangan gigi. Jadi banyak yang tidak punya gigi lengkap lagi dari usia katakan remaja sampai pada lansia," ujar Tari.

Kerusakan gigi yang tidak segera ditangani dapat berkembang hingga menyebabkan hilangnya struktur gigi permanen, bahkan sejak usia muda.

Kebiasaan Makan Manis Bisa Picu Kehilangan Gigi di Usia Muda

 

Kehilangan gigi pada remaja tentu tidak terjadi tanpa sebab. Kondisi ini dapat bermula dari gigi berlubang atau karies maupun penyakit periodontal yang dibiarkan tanpa penanganan.

Selain masalah tersebut, gaya hidup juga dapat berperan dalam mempercepat kerusakan gigi dan mulut. Karena itu, edukasi mengenai pola makan dan kebiasaan menjaga kesehatan gigi menjadi bagian penting dalam Bulan Kesehatan Gigi Nasional 2026.

Tari menyoroti pola konsumsi makanan manis masyarakat yang masih perlu mendapat perhatian. Berdasarkan data yang disampaikannya, sekitar 45,7 persen masyarakat mengonsumsi makanan manis dalam jumlah lebih banyak dari kebutuhan dalam sehari.

"Kalau kita lihat gaya hidup masa sekarang atau lifestyle itu beda ya. Dari data 45,7 persen masyarakat itu dalam mengonsumsi manis-manis itu lebih (banyak) dalam satu hari," kata Tari.

Di sisi lain, kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kesehatan gigi juga masih rendah. Banyak anak maupun orang dewasa baru datang ke dokter gigi ketika sudah mengalami sakit gigi.

Berdasarkan data yang disampaikan Tari, hanya sekitar 11 persen masyarakat yang berkunjung ke dokter gigi dalam satu tahun.

"Bahkan, kalau masyarakat sakit, merasakan sakit gigi, begitu kita lihat dari data yang ada itu hanya 11 persen lah yang berkunjung, yang datang ke dokter gigi dalam satu tahun sekali," ujarnya.

Menurut Tari, kondisi tersebut menunjukkan perlunya edukasi lebih lanjut agar masyarakat semakin menyadari pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut serta tidak menunda pemeriksaan ketika muncul masalah.

Kehilangan gigi permanen pada usia remaja dapat memberikan dampak jangka panjang, mulai dari terganggunya fungsi pengunyahan dan asupan nutrisi, menurunnya rasa percaya diri, hingga berpotensi berkaitan dengan masalah kesehatan lainnya.