Kebanyakan Makan Olahan Tepung, Obesitas hingga Diabetes Mengintai

Karbohidrat sederhana pada tepung lebih cepat dicerna tubuh sehingga kadar gula darah meningkat dengan cepat.

Diterbitkan 12 Juli 2026, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Mi instan, gorengan, roti, hingga aneka jajanan berbahan tepung telah menjadi bagian dari menu sehari-hari banyak masyarakat Indonesia. Di balik itu, konsumsi makanan berbahan tepung secara berlebihan dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular jika tidak diimbangi pola makan sehat dan aktivitas fisik yang cukup.

Tepung merupakan sumber karbohidrat yang pada akhirnya akan diubah menjadi glukosa sebagai sumber energi.

"Apabila dikonsumsi secara berlebihan tanpa disesuaikan dengan kebutuhan kalori harian, risikonya dapat meningkatkan kejadian penyakit tidak menular seperti diabetes melitus, hipertensi, hingga stroke," kata Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dokter Iman Permana, M.Kes., Ph.D.

Iman mengatakan berbagai makanan olahan berbahan tepung, terutama yang digoreng, umumnya mengandung karbohidrat sederhana dan lemak jenuh dalam jumlah tinggi. Makin buruk bila digoreng menggunakan minyak goreng yang dipakai berulang kali.

"Kalau pola makan seperti ini berlangsung terus-menerus, risiko terjadinya resistensi insulin akan meningkat. Ketika tubuh mulai kurang sensitif terhadap insulin, kadar gula darah menjadi lebih sulit dikendalikan dan dalam jangka panjang dapat memicu obesitas maupun diabetes," jelasnya seperti mengutip laman resmi UMY, Minggu (12/7/2026).

Iman mengatakan karbohidrat sederhana pada tepung lebih cepat dicerna tubuh sehingga kadar gula darah meningkat dengan cepat. Meski demikian, efek kenyang tersebut biasanya tidak bertahan lama karena makanan juga lebih cepat diubah menjadi energi.

Akibatnya, seseorang lebih mudah merasa lapar kembali dan terdorong untuk makan lebih sering. Bila kondisi ini terus berlangsung tanpa diimbangi aktivitas fisik yang memadai, risiko kelebihan kalori dan kenaikan berat badan pun meningkat.

 

Perlu Diversifikasi Pangan

Selain edukasi tentang gizi seimbang kepada masyarakat, Iman menilai pemerintah memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan pangan yang lebih sehat. Salah satunya dengan memastikan bahan pangan bergizi, seperti sayuran, telur, ikan, dan sumber protein lainnya, tersedia dengan harga yang terjangkau.

Ia juga mendorong masyarakat untuk mulai memanfaatkan pangan lokal sebagai alternatif sumber karbohidrat, seperti jagung, ubi, singkong, dan sagu.

Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan pangan lokal yang sangat beragam dan dapat menjadi pilihan untuk mendukung pola makan yang lebih seimbang.

"Bukan berarti tepung harus dihindari sama sekali, tetapi konsumsinya perlu disesuaikan dengan kebutuhan tubuh dan diimbangi dengan pola makan bergizi seimbang serta aktivitas fisik yang cukup," pungkas Iman.

Â