Peneliti Temukan Kaitan Menarik antara Strength Training dan Efek Awet Muda

Strength training dikaitkan dengan efek awet muda. Simak temuan penelitian dan cara memulainya.

Diterbitkan 05 Agustus 2026, 18:47 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Selain membantu membentuk otot dan meningkatkan kebugaran, strength training atau latihan kekuatan ternyata juga dikaitkan dengan efek awet muda. Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa orang yang rutin melakukan latihan kekuatan cenderung memiliki usia biologis lebih muda dibandingkan mereka yang jarang berolahraga.

Melansir Women's Health, Rabu (5/8/2026), temuan tersebut berasal dari penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Biology. Peneliti menganalisis hampir 5.000 pria dan wanita berusia 20 hingga 69 tahun untuk mengetahui hubungan antara latihan kekuatan dan penuaan biologis.

Dalam penelitian tersebut, peneliti mengukur panjang telomer peserta melalui tes darah. Telomer merupakan bagian pelindung di ujung kromosom yang sering digunakan sebagai indikator usia biologis. Semakin panjang telomer, semakin baik kondisi sel dan semakin lambat proses penuaan biologis yang diperkirakan terjadi.

Selain menjalani pemeriksaan darah, peserta juga diminta melaporkan kebiasaan olahraga mereka, termasuk seberapa sering melakukan strength training setiap pekan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa melakukan latihan kekuatan sekitar 90 menit per minggu dikaitkan dengan usia biologis yang hampir empat tahun lebih muda.

Sementara itu, mereka yang berlatih sekitar 180 menit setiap minggu memiliki kaitan dengan usia biologis hingga delapan tahun lebih muda.

Peneliti menjelaskan bahwa latihan kekuatan dapat membantu mengurangi dampak penyakit kronis, mencegah hilangnya massa otot akibat penuaan, meningkatkan laju metabolisme saat istirahat, membantu menurunkan lemak tubuh, serta menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah. Berbagai manfaat tersebut diduga berkontribusi dalam memperlambat penuaan sel.

Meski demikian, salah satu pendiri SoHo Strength Lab, Albert Matheny, RD, CSCS, mengingatkan bahwa hasil penelitian ini tetap memiliki keterbatasan.

Menurutnya, data mengenai durasi latihan diperoleh dari laporan peserta sehingga berpotensi kurang akurat. Sebagian orang mungkin melebihkan atau justru meremehkan waktu latihan yang sebenarnya dilakukan.

Meski begitu, Matheny menilai hasil penelitian tersebut tetap menunjukkan pola yang menarik. "Durasi latihan yang lebih lama paling erat kaitannya dengan panjang telomer yang maksimal," ujar Albert Matheny.

Cara Memulai Strength Training bagi Pemula

Bagi pemula, Matheny menegaskan bahwa latihan kekuatan tidak harus langsung menggunakan alat fitness atau beban berat.

"Anda tidak memerlukan beban tambahan selain berat tubuh sendiri untuk memulai latihan kekuatan. Mulailah dengan latihan yang mengandalkan berat tubuh," kata Matheny.

Dia menyarankan untuk memulai dengan gerakan yang melatih kelompok otot besar, seperti squat, lunge, walking lunge, step-up, dan step-back lunge. Sementara untuk tubuh bagian atas, latihan dapat dimulai dengan push-up, pull-up, maupun plank.

Setelah tubuh mulai beradaptasi, intensitas latihan dapat ditingkatkan secara bertahap dengan menambah repetisi, mengurangi bantuan alat, atau mulai menggunakan beban.

Selain dikaitkan dengan usia biologis yang lebih muda, manfaat strength training untuk wanita juga cukup beragam. Latihan ini dapat membantu mempertahankan massa otot, menjaga kepadatan tulang, meningkatkan metabolisme, serta mendukung kebugaran secara keseluruhan, terutama seiring bertambahnya usia. Namun, manfaat tersebut tidak hanya dirasakan wanita, melainkan juga pria yang rutin melakukan latihan kekuatan.

Meski penelitian ini belum membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung, temuan tersebut semakin memperkuat bahwa strength training layak menjadi bagian dari rutinitas olahraga untuk menjaga kesehatan tubuh dalam jangka panjang.