Kasus Yurizal Tri Chaerawan Viral: Dokter Tak Cukup Punya Empati

Kasus Yurizal Tri Chaerawan viral, Prof Tjandra ungkap sikap penting yang wajib dimiliki dokter.

Diterbitkan 05 Agustus 2026, 13:57 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Prof Tjandra merupakan Guru Besar Fakultas Kedokteran UI juga Direktur Program Pasca Sarjana Universitas YARSI Jakarta.

Liputan6.com, Jakarta - Guru Besar Kedokteran sejak 2008, Prof. Tjandra Yoga Aditama, turut menyoroti kasus viral terkait komentar nirempati nakes terhadap unggahan pasien BPJS Kesehatan, Yurizal Tri Chaerawan, di Threads. Peristiwa ini semakin menyita perhatian publik setelah Yurizal diketahui meninggal dunia pada 31 Juli 2026.

Sambil menunggu konfirmasi mengenai kronologi kejadian yang sebenarnya, Tjandra terlebih dahulu menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Yurizal. "Semoga mendapat tempat mulia di sisi Tuhan YME," kata Tjandra kepada Kesehatan Liputan6.com, Rabu (5/8/2026).

Di balik polemik yang berkembang, Tjandra menegaskan bahwa seorang dokter tidak cukup hanya memiliki empati. Tenaga medis juga perlu memiliki einfühlung, sebuah konsep yang dinilai lebih mendalam dibandingkan sekadar empati.

"Karena pasien memang sedang sakit, yang bukan hanya fisik tapi juga mungkin ada tekanan pemikiran menghadapi situasi yang ada. Bukan hanya empati, dokter juga harus punya einfühlung," ujarnya.

Tjandra menjelaskan bahwa einfühlung berasal dari bahasa Jerman, yaitu ein yang berarti 'ke dalam' dan fühlung yang berarti 'perasaan' atau 'perabarasaan'.

"Secara harfiah, istilah ini bermakna "merasa ke dalam" (feeling into)," katanya.

Menurutnya, konsep tersebut menggambarkan kemampuan seseorang untuk menyelami, meresapi, dan ikut merasakan isi jiwa serta sudut pandang orang lain. Dalam praktik kedokteran, kemampuan ini menjadi bagian penting dalam membangun hubungan antara dokter dan pasien.

"Jadi, dokter bukan hanya memeriksa dan mengobati pasien tapi juga merabarasakan apa yang dialami dan dikeluhkan pasiennya, serta memberikan empati sesuai keadaan yang dialami pasiennya," ujar Tjandra.

Dia menilai akan sangat memprihatinkan apabila ada dokter yang tidak berempati terhadap kondisi pasien maupun tidak memiliki einfühlung terhadap apa yang sedang dirasakan pasien.

"Harus diingat bahwa pasien bukan hanya mengeluhkan keadaan sakitnya tapi juga berbagai keadaan yang terkait dengan keadaan sakitnya, dan ini harus dipahami serta diberi empati memadai," katanya.

 

Etika Nakes di Media Sosial

Selain menyoroti aspek empati dalam profesi kedokteran, Tjandra mengatakan kasus Yurizal Tri Chaerawan viral juga menjadi pengingat bagi semua pihak untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial.

"Viralnya berita ini kembali menunjukkan bahwa seseorang, dan kita semua, harus amat bijak dalam bermedia sosial," ujarnya.

Di sisi lain, dia juga menyoroti informasi yang menyebut Yurizal harus menunggu hingga delapan jam untuk mendapatkan ruang rawat. Menurut Tjandra, informasi tersebut perlu mendapat perhatian karena masih memerlukan kejelasan.

Dia, menjelaskan, terdapat dua kemungkinan yang perlu dipahami. Pertama, pasien sebenarnya sudah mendapatkan penanganan medis, tapi belum memperoleh ruang rawat inap. Kedua, pasien belum mendapatkan penanganan yang memadai sekaligus belum memperoleh ruang rawat.

Apa pun kondisi yang sebenarnya, Tjandra menilai situasi tersebut menunjukkan masih adanya tantangan dalam pelayanan kesehatan di lapangan.

"Perlu ada manajemen pelayanan kesehatan yang baik di negara kita agar jangan sampai ada pasien yang terlantar dalam pelayanan di rumah sakit," pungkasnya.