Anak Kena Campak Bisa Alami Komplikasi, Mulai dari Pneumonia hingga Radang Otak

Campak bukan cuma bikin demam atau ruam saja. Pada anak yang tidak diimunisasi campak bisa menyebabkan pneumonia hingga radang otak.

Diterbitkan 24 April 2026, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Campak bukanlah penyakit ringan yang menimbulkan demam, batuk, dan ruam saja. Anak yang tidak mendapatkan imunisasi campak bisa mengalami keparahan akibat penyakit tersebut.

"Penyakit campak itu bukan sekadar merah, demam dengan bercak merah biasa, tapi bisa menyebabkan komplikasi macam-macam,” kata Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Profesor Dr dr Hartono Gunardi SpA di Kantor Kemenkes, pada Kamis, 23 April 2026.

Hartono mengungkapkan pnumonia dan radang otak adalah dua komplikasi yang bisa terjadi pada anak terkena campak. 1 dari 20 anak terkena campak berisiko mengalami radang paru atau pneumonia.

"Radang paru ini adalah penyebab kesakitan yang paling banyak dan juga penyebab kematian terbanyak pada anak balita," tegas Hartono.

Komplikasi lain akibat campak adalah radang otak, kondisi ini membuat anak jadi tidak sadar. Bahkan, bila anak sembuh bisa meninggalkan gejala sisa seperti kelumpuhan dan kemampuan kognitif berkurang.

Diare, Komplikasi Paling Sering dari Campak

Selain dua penyakit itu, lomplikasi yang sering terjadi adalah infeksi telinga yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran. Lalu, sekitar 1 dari 10 yang terkena campak mengalami diare.

 

Imunisasi MR Penting

Mengingat dampak dari campak yang bisa membahayakan kesehatan bahkan mengancam nyawa, pemerintah pun memasukkan campak sebagai imunisasi dasar.

Vaksin campak diberikan pertama kali pada saat anak berusia 9 bulan, lalu usia 18 bulan. Kemudian diberikan lagi ketika anak masuk sekolah dasar. Imunisasi campak bisa mencegah komplikasi serius seperti radang paru (pneumonia), infeksi otak, diare, hingga kematian pada anak.

Apa Itu Campak?

Campak adalah penyakit akut menular yang disebabkan oleh virus dari genus Morbillivirus dalam keluarga Paramyxoviridae. Penyakit ini paling sering menyerang anak-anak. Namun, mengutip keslan.kemkes.go.id, orang dewasa yang belum memiliki kekebalan juga tetap berisiko terinfeksi.

Salah satu hal yang membuat campak berbahaya adalah tingkat penularannya yang sangat tinggi. Satu orang terkena campak bisa menularkan ke 12-18 orang.

Virus campak dapat menyebar melalui percikan droplet saat penderita batuk atau bersin. Bahkan, virus ini juga bisa menyebar melalui udara (airborne) dan bertahan di permukaan benda selama beberapa jam.

Penularan dapat terjadi melalui:

  • Percikan saliva dari batuk atau bersin
  • Kontak langsung dengan cairan tubuh penderita
  • Menyentuh benda yang terkontaminasi virus.

Hal ini membuat campak sangat mudah menyebar, terutama di lingkungan padat penduduk atau dalam keluarga dengan anggota yang belum memiliki kekebalan.

Gejala Campak, Mirip Flu

Gejala campak sering kali mirip dengan penyakit flu biasa, sehingga banyak orang tidak langsung menyadarinya.

Beberapa gejala yang umum muncul antara lain:

  • Demam tinggi
  • Batuk kering dan pilek
  • Mata merah dan sensitif terhadap cahaya
  • Tubuh terasa lemas dan tidak bertenaga
  • Muncul ruam merah di kulit
  • Bercak putih keabu-abuan di dalam mulut
  • Selain itu, penderita juga bisa mengalami diare, muntah, serta penurunan nafsu makan. Gejala ini biasanya muncul secara bertahap dan bisa semakin parah jika tidak ditangani dengan baik.