Sulit Kenali Pemondokan Jadi Tanda Disorientasi pada Jemaah Haji Lansia

Cuaca panas dan dehidrasi bisa picu disorientasi pada jemaah haji lansia, simak tanda awalnya.

Diterbitkan 17 Mei 2026, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Makkah - Petugas kesehatan haji menemukan sejumlah tanda awal disorientasi pada jemaah haji lansia selama berada di Tanah Suci. Salah satu gejala yang paling sering muncul adalah kesulitan mengenali lokasi pemondokan sendiri.

Selain itu, jemaah lansia juga kerap terlihat bingung menentukan arah, mondar-mandir tanpa tujuan jelas, hingga lupa mengenali orang di sekitar mereka. Kondisi ini banyak ditemukan setelah jemaah menjalani perjalanan panjang dan menghadapi cuaca panas ekstrem di Arab Saudi.

Dokter spesialis kesehatan jiwa yang bertugas di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Daerah Kerja (Daker) Makkah, dr. Rismayanti, Sp.KJ, mengatakan, disorientasi pada lansia perlu segera ditangani agar tidak berkembang menjadi kondisi yang lebih berat.

"Perubahan lingkungan, suhu panas, kepadatan jemaah, dan kelelahan fisik menjadi faktor utama yang memicu disorientasi akut pada lansia," kata Rismayanti pada tim Media Center Haji di Makkah pada Kamis, 14 Mei 2026.

Menurut dia, banyak orang masih menganggap kondisi tersebut sebagai kelelahan biasa atau pikun. Padahal, disorientasi merupakan gangguan kebingungan yang muncul secara mendadak dan dapat dipicu oleh kondisi fisik yang menurun.

Petugas kesehatan haji pun meminta pendamping maupun sesama jemaah lebih peka terhadap perubahan perilaku pada lansia. Jika jemaah mulai sulit mengenali pemondokan, tampak kebingungan, atau berjalan tanpa arah jelas, kondisi itu sebaiknya segera dilaporkan kepada tenaga kesehatan.

"Kalau ditemukan lebih awal dan ditangani cepat, kondisi jemaah biasanya bisa membaik dan kembali menjalankan ibadah dengan baik," ujar Rismayanti.

 

Suhu Udara di Mekkah bagi Jemaah Haji Lansia

Dia, menjelaskan, suhu udara di Makkah yang bisa mencapai lebih dari 40 derajat Celsius membuat risiko disorientasi meningkat, terutama pada jemaah lanjut usia dengan kondisi tubuh yang rentan.

Selain faktor kelelahan, dehidrasi juga menjadi penyebab utama munculnya kebingungan pada jemaah lansia. Banyak jemaah tidak sadar tubuh mereka sudah kekurangan cairan karena cuaca panas membuat cairan tubuh hilang lebih cepat.

"Cuaca panas membuat tubuh kehilangan cairan lebih cepat. Banyak jemaah tidak sadar sudah mengalami dehidrasi," katanya.

Oleh sebab itu, petugas kesehatan mengingatkan jemaah untuk rutin minum air meski tidak merasa haus. Lansia juga diminta tidak memaksakan diri menjalankan aktivitas fisik berlebihan atau terlalu sering melakukan ibadah sunnah di tengah cuaca terik.

Dalam penanganannya, tim kesehatan haji mengedepankan pendekatan preventif dan humanis. Petugas tidak hanya memberikan pengobatan, tetapi juga memastikan kebutuhan dasar jemaah terpenuhi, mulai dari asupan cairan, nutrisi, hingga waktu istirahat.

"Kami memastikan jemaah cukup minum, mendapat nutrisi yang baik, dan tidak mengalami kelelahan fisik berlebihan," ujar Rismayanti.

Petugas kesehatan juga melakukan reorientasi untuk membantu jemaah kembali mengenali tempat, waktu, dan orang di sekitar mereka. Langkah tersebut biasanya dilakukan bersamaan dengan rehidrasi agar kondisi tubuh jemaah lebih cepat pulih.

Tim kesehatan haji menilai pengaturan aktivitas menjadi hal penting menjelang puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Dengan kondisi fisik yang terjaga, risiko gangguan orientasi pada jemaah lansia diharapkan bisa ditekan selama menjalani rangkaian ibadah haji.