6 Fakta tentang Ebola, Mematikan dan Belum Ada Pengobatan Spesifik

Mengenal karakteristik ebola yang tengah mewabah di Kongo dan Uganda lewat enam fakta berikut.

Diterbitkan 18 Mei 2026, 20:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pusat Pengendalian dan Pencegahan Afrika (CDC Afrika) melaporkan 80 orang meninggal karena ebola di Provinsi Ituri, wilayah timur Kongo. CDC Afrika juga melaporkan adanya penularan komunitas aktif penyakit ebola di sana. 

Terkait kasus ebola di Kongo, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Aji Muhawarman meminta masyarakat Indonesia tidak panik tapi waspada.

Pemerintah Indonesia pun melakukan penguatan kewaspadaan dengan lintas sektor dan program, melalui surveilans penyakit, koordinasi dengan fasilitas kesehatan dan pintu masuk negara, serta  kesiapan deteksi dan respons apabila ditemukan kasus suspek.

Lalu, pemerintah juga meningkatkan pengawasan pelaku perjalanan terutama dari negara outbreak dengan menyiagakan petugas. "Jika ditemukan kasus suspek maka dirujuk ke RS rujukan," tutur Aji dalam pesan tertulis yang diterima Liputan6.com

Peningkatan kewaspadaan terhadap ebola lantaran penyakit ini mematikan dengan tingkat kematian tinggi. Berikut fakta-fakta tentang ebola:

Ebola adalah Penyakit Mematikan

Fakta pertama, ebola adalah penyakit infeksi virus yang dapat menyebabkan kematian. Terdapat tiga strain virus yang sering menyebabkan wabah, yakni:

  • Ebola Virus Disease (EVD)
  • Sudan Virus Disease (SVD)
  • Bundibugyo Virus Disease (BVD) yang kini sedang menyebar di Kongo dan Uganda.

Tingkat Kematian Tinggi

Tingkat kematian alias case fatality rate (CFR) ebola sangat tinggi yakni 50 persen. Di Republik Demokrat Kongo, belakangan ebola merenggut hingga 88 nyawa.

Wabah terjadi di Provinsi Ituri, Kongo dengan laporan hingga 16 Mei 2026 sebanyak 246 kasus suspek, termasuk 8 kasus konfirmasi dan 80 kematian (CFR 32,5 persen persen).

Virus yang teridentifikasi adalah Bundibugyo virus, salah satu jenis virus Ebola. Selain di RD Kongo, dilaporkan juga kasus terkait perjalanan (impor dari Kongo) di Kampala, Uganda, dan Kinshasa.

WHO menilai kondisi keamanan, mobilitas penduduk yang tinggi, serta keterbatasan fasilitas kesehatan di wilayah terdampak meningkatkan risiko penyebaran regional.

Wabah Ebola di Kongo Sandang Status PHEIC

Pada 17 Mei 2026, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah ebola di Kongo sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC). Penetapan ini menunjukkan perlunya kewaspadaan dan koordinasi di tingkat global, tapi belum termasuk kategori pandemi.

Penetapan dilakukan karena adanya penyebaran lintas wilayah dan lintas negara, tingginya tingkat kematian, serta masih adanya ketidakpastian kondisi dan luas penyebaran wabah.

Ebola Menular dengan Kontak Langsung

Ebola adalah penyakit virus yang bisa menular lewat kontak langsung dengan manusia atau hewan yang terinfeksi.

“Penularannya terjadi melalui kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, atau benda yang terkontaminasi dari manusia maupun hewan yang terinfeksi yang masuk melalui kulit atau selaput lendir manusia,” kata Aji dalam keterangan resmi, Senin (18/5/2026).

Gejala Ebola Muncul Mendadak

Gejala ebola dapat muncul mendadak, antara lain demam, lemas, nyeri otot, sakit kepala, yang dapat disertai muntah, diare, hingga perdarahan. Masa inkubasi virusnya berkisar antara 2–21 hari.

Belum Ada Pengobatan Spesifik untuk Ebola

Hingga saat ini, belum terdapat pengobatan spesifik yang tersedia luas, sehingga penanganan terutama berupa perawatan suportif intensif. Vaksin yang tersedia juga terbatas digunakan untuk penanganan wabah di Afrika.