Korban Ebola Terus Bertambah di Kongo, 118 Orang Meninggal

Otoritas setempat juga mengatakan ada sekitar 390-an orang suspek Ebola yang tengah terjadi di Kongo.

Diterbitkan 19 Mei 2026, 11:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Wabah Ebola yang terjadi di Republik Demokratik Kongo terus memakan korban. Berdasarkan laporan terbaru, 118 orang meninggal dunia akibat virus Ebola dan 390 orang suspek Ebola. 

Guna menyelamatkan nyawa lain, Kongo bakal membuka tiga pusat perawatan Ebola di Provinsi Ituri yang berada di bagian timur negara tersebut. Lalu, World Health Organization (WHO) bakal mengirimkan tim pakar ke negara tersebut seperti mengutip AP, Selasa, 19 Mei 2026.

Pemerintah Kongo juga melaporkan jumlah orang yang terinfeksi Ebola juga bertambah. Terbaru, seorang dokter asal Amerika Serikat yang tengah bertugas di sana positif terinfeksi Ebola.

Kongo mengatakan bahwa orang pertama yang meninggal karena Ebola pada periode ini terjadi pada 24 April 2026 di Bunia, ibukota Provinsi Ituri.  Jenazah orang tersebut kemudiah dibawa ke Mongbwalu, sebuah area pertambangan dengan populasi warga yang besar.

“Hal itu menyebabkan wabah Ebola meningkat,” kata Menteri Kesehatan Kongo, Samuel Roger Kamba.

Usai kejadian tersebut, pada 5 Mei WHO mendapatkan laporan bahwa ada 50 orang meninggal di Mongbwalu. Termasuk diantaranya empat petugas kesehatan.

Berdasarkan sampel pemeriksaan yang keluar 14 Mei, virus penyebabnya adalah Ebola Bundibugyo.

“Situasinya cukup mengkhawatirkan dan berkembang dengan sangat cepat,” kata Esther Sterk dari kelompok bantuan Medecins Sans Frontieres.

“Penyakit ini terdeteksi cukup terlambat,” lanjutnya lantaran gejala Ebola serupa dengan penyakit tropis lainnya.

 

WHO Tetapkan Status Kedaruratan Internasional

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo dan Uganda sebagai darurat kesehatan masyarakat yang meresahkan dunia atau public health emergency of international concern (PHEIC).

“Penyakit Ebola yang disebabkan virus Bundibugyo di Republik Demokratik Kongo dan Uganda merupakan darurat kesehatan masyarakat yang meresahkan dunia (PHEIC), tetapi belum memenuhi kriteria sebagai darurat pandemi,” demikian pernyataan WHO 17 Mei 2026. 

Sebelumnya, pada Jumat, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) melaporkan terdapat 13 kasus Ebola yang telah terkonfirmasi melalui uji laboratorium di Republik Demokratik Kongo, termasuk empat kematian.

Selain itu, sebanyak 246 kasus belum terkonfirmasi telah teridentifikasi, sementara otoritas setempat juga menyelidiki kemungkinan kematian terkait wabah terhadap 65 orang lainnya.

Pemerintah Uganda pada Jumat juga menetapkan status siaga tinggi akibat wabah tersebut.