Menhaj Buka Opsi untuk Jemaah Haji yang Masih Dirawat

Menhaj buka sejumlah opsi penanganan bagi jemaah haji yang masih menjalani perawatan di Saudi.

Diterbitkan 06 Juni 2026, 17:26 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Makkah - Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) RI, Mochamad Irfan Yusuf, menegaskan tidak semua jemaah haji Indonesia yang sedang menjalani perawatan harus dipindahkan dari Makkah ke Madinah menjelang fase pemulangan ke Tanah Air.

Hal itu disampaikan Irfan saat meninjau layanan kesehatan jemaah di Saudi German Hospital, Madinah pada Rabu, 3 Juni 2026. Menurut dia, pemerintah akan menyesuaikan keputusan pemindahan pasien dengan kondisi medis masing-masing jemaah.

Irfan, mengatakan, Kemenhaj RI telah membahas berbagai opsi penanganan bagi jemaah yang masih dirawat setelah puncak pelaksanaan ibadah haji. Pertimbangan utama yang digunakan adalah manfaat terbaik bagi proses penyembuhan pasien.

"Kami membahas apakah jemaah yang sedang dirawat perlu dipindahkan ke Madinah atau tidak. Jika di Madinah mereka tetap berada di rumah sakit dan tidak dapat menjalankan aktivitas ibadah, maka yang lebih penting adalah memastikan proses perawatan dan pemulihan berjalan dengan baik," kata Menhaj kepada tim Media Center Haji pada Rabu.

Dia, menjelaskan, jemaah yang kondisi kesehatannya memungkinkan dapat dipindahkan ke Madinah. "Tergantung kondisi masing-masing. Jika memungkinkan, akan dipindahkan ke Madinah. Namun, jika belum memungkinkan, mereka tetap menjalani perawatan sampai benar-benar siap untuk melanjutkan perjalanan atau dipulangkan," ujarnya.

Dalam kunjungan tersebut, Menhaj juga mengevaluasi pelaksanaan kerja sama layanan kesehatan antara penyelenggara haji Indonesia dan rumah sakit di Arab Saudi. Skema tersebut diterapkan untuk pertama kalinya pada musim haji tahun ini guna memperkuat layanan medis bagi jemaah Indonesia.

 

Penanganan Pasien Selama Haji

Menurut Irfan, kerja sama tersebut telah membantu penanganan pasien selama penyelenggaraan ibadah haji. Meski demikian, pemerintah masih menemukan sejumlah aspek yang perlu diperbaiki agar layanan kesehatan berjalan lebih efektif.

"Beberapa hal yang menjadi perhatian adalah komunikasi dan koordinasi dalam pelaksanaan kerja sama ini. Karena baru pertama kali dilakukan, tentu ada sejumlah aspek yang perlu diperbaiki, termasuk terkait proses rujukan pasien dan kepastian waktu pemulangan mereka," katanya.

Kemenhaj RI berencana memperkuat kemitraan dengan rumah sakit di Arab Saudi untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan pada musim haji mendatang.

Langkah itu diharapkan dapat memperluas akses layanan sekaligus mempercepat penanganan jemaah yang membutuhkan perawatan medis.

Selain aspek kesehatan fisik, pemerintah juga mempertimbangkan kondisi psikologis dan spiritual jemaah dalam setiap pengambilan keputusan.

Oleh sebab itu, penanganan pasien akan dilakukan secara individual sesuai kebutuhan dan perkembangan kesehatan masing-masing.

"Kami ingin kerja sama ini dapat memberikan manfaat yang lebih besar sehingga pelayanan kesehatan bagi jemaah Indonesia semakin optimal," pungkasnya.