Gejala Depresi pada Remaja Samar, Kerap Disangka Fase Pubertas

Nafsu makan turun, menarik diri, hingga overthinking yang dialami remaja kerap dianggap hal biasa di masa pubertas.

Diterbitkan 22 Juli 2026, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Gejala depresi dan kecemasan pada remaja kerap sulit dikenali karena sering dianggap sebagai bagian dari perubahan perilaku saat pubertas. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan kondisi tersebut dapat menjadi tanda awal gangguan mental yang perlu segera dikenali dan ditangani.

Tanda-tanda seperti kehilangan minat pada aktivitas yang disukai, penurunan nafsu makan, perasaan tidak berharga, pikiran berlebihan (overthinking), gelisah, dan keluhan fisik seperti sakit perut tanpa sebab jelas harus diwaspadai seperti disampaikan Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, dr. Angga Wirahmadi, SpA, Subsp.T.K.P.S.(K).

"Gejala ini sering dianggap perubahan perilaku biasa pada remaja, padahal bisa menjadi tanda awal gangguan mental," jelas Angga.

Bila orangtua mendapati tanda-tanda di atas sampai mengganggu fungsi sehari-hari, Angga mengingatkan orangtua untuk mengajak anak ke psikolog maupun psikiater.

"Jika ada perubahan perilaku atau emosi yang tiba-tiba tanpa sebab jelas hingga mempengaruhi fungsi sehari-hari seperti tidak mau sekolah, tidak mau makan, hingga enggan mandi tu harus segera dirujuk ke tenaga profesional," jelas Angga dalam seminar media yang digelar secara daring oleh Pengurus Pusat IDAI, Selasa (21/7/2026).

Selain mengenali tanda-tanda gangguan mental sejak dini, Angga juga mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam menjaga kesehatan mental anak. Ia mendorong orang tua membangun komunikasi yang hangat tanpa menghakimi, mengajak anak berolahraga, berorganisasi, atau menekuni hobi, serta membatasi durasi penggunaan media sosial.

"Apabila ada masalah, anak-anak harus bercerita kepada orangtua, guru, atau teman yang dipercaya," pesannya.

 

Â