Hubungan Harmonis Tak Selalu Harus Lengket, Peneliti Jelaskan Alasannya

Hubungan harmonis tak harus selalu lengket. Peneliti mengungkap faktor yang membuat cinta tetap awet.

Diterbitkan 22 Juli 2026, 13:29 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Banyak orang menganggap hubungan yang harmonis berarti pasangan harus selalu bersama. Padahal, kenyataannya tidak selalu demikian. Ada pasangan yang merasa nyaman menghabiskan hampir seluruh waktu bersama, tetapi ada juga yang tetap membutuhkan ruang pribadi meski hubungan mereka berjalan baik.

Perbedaan kebutuhan akan kedekatan ini sering kali memunculkan pertanyaan, apakah hubungan tetap bisa langgeng jika salah satu pasangan ingin lebih mandiri?

Penelitian terbaru dari Omar Camanto dan Lorne Campbell dari University of Western Ontario pada 2025 menunjukkan bahwa jawabannya bisa iya. Kuncinya bukan pada seberapa sering pasangan bersama, melainkan bagaimana mereka membangun kepercayaan satu sama lain.

"Semakin Anda dapat mempercayai pasangan Anda, semakin saling bergantung Anda dapat menjadi." tulis Omar Camanto dan Lorne Campbell dalam penelitian mereka.

Artinya, hubungan yang sehat tidak selalu ditentukan oleh seberapa sering pasangan bersama, melainkan seberapa besar mereka merasa aman dan dapat mengandalkan satu sama lain.

Kepercayaan Tidak Hanya Soal Perasaan

Dalam studi tersebut, peneliti menjelaskan bahwa kepercayaan terdiri dari tiga komponen utama, yaitu prediktabilitas, keandalan, dan keyakinan.

Prediktabilitas berarti seseorang memiliki perilaku yang konsisten sehingga pasangannya dapat memahami bagaimana dia akan bertindak dalam berbagai situasi. Sementara itu, keandalan berkaitan dengan tindakan nyata yang menunjukkan bahwa seseorang dapat dipercaya, misalnya tetap setia dan menepati komitmen.

Adapun keyakinan merupakan rasa percaya yang muncul meski belum memiliki banyak bukti. Seseorang tetap merasa aman untuk membuka diri dan yakin pasangannya akan memberikan dukungan ketika dibutuhkan.

"Kepercayaan berbasis keyakinan cenderung tinggi pada awal hubungan ketika orang secara otomatis mempercayai pasangannya."

Namun, seiring waktu, bentuk kepercayaan tersebut mulai berubah. Pasangan tidak lagi hanya mengandalkan perasaan tapi juga pengalaman dan tindakan nyata yang telah mereka lihat selama menjalani hubungan, dikutip dari psychologytoday pada Rabu (22/7/2026)

Pasangan Muda dan Lama Memiliki Cara Percaya yang Berbeda

Melalui dua studi terhadap orang dewasa, tim peneliti menemukan adanya perbedaan antara pasangan yang masih berada di tahap awal hubungan dan pasangan yang sudah menjalin hubungan lebih lama.

Pasangan yang lebih muda cenderung membangun kepercayaan berdasarkan keyakinan atau harapan terhadap pasangan. Sebaliknya, pasangan yang lebih matang lebih banyak mengandalkan bukti nyata, seperti konsistensi perilaku, komitmen, dan pengalaman yang telah mereka lalui bersama.

Temuan ini menunjukkan bahwa hubungan yang sehat tidak selalu ditentukan oleh intensitas kebersamaan, tetapi oleh konsistensi tindakan yang membangun rasa aman.

Gaya Kelekatan Ikut Memengaruhi

Penelitian ini juga mengaitkan kepercayaan dengan attachment theory atau teori keterikatan. Menurut teori tersebut, pengalaman seseorang sejak masa kecil dapat memengaruhi cara mereka membangun hubungan saat dewasa.

Orang yang tumbuh dengan rasa aman biasanya lebih mudah mempercayai pasangan. Sebaliknya, mereka yang memiliki pengalaman keterikatan kurang aman mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa nyaman bergantung kepada orang lain.

Karena itu, pasangan bisa saja sama-sama saling mencintai, tetapi memiliki cara berbeda dalam mengekspresikan komitmen. Salah satunya adalah soal keputusan untuk tinggal bersama atau tetap memiliki ruang pribadi.

Pada akhirnya, Camanto dan Campbell menegaskan bahwa hubungan harmonis tidak selalu identik dengan selalu bersama setiap saat. Yang lebih penting adalah adanya rasa percaya yang dibangun melalui komunikasi, konsistensi, dan tindakan nyata.

Dengan kata lain, pasangan tidak harus selalu "lengket" agar hubungan tetap kuat. Selama keduanya mampu membangun kepercayaan dan saling memahami kebutuhan masing-masing, hubungan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dalam jangka panjang.