Ingin Terhindar dari Stroke dan Gagal Ginjal? Menkes Minta Jaga 3 Angka Ini

Termasuk tekanan darah mesti dikendalikan di bawah 120/80 mmHG untuk mencegah terkena stroke dan gagal ginjal.

Diterbitkan 30 Juni 2026, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengingatkan masyarakat untuk menjaga tekanan darah, kadar gula darah, dan kolesterol. Tiga aspek ini perlu dikendalikan untuk mencegah stroke, penyakit jantung, serta gagal ginjal yang masih menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia.

"Saya sampaikan juga ke Pak Menteri sebelah saya agar jangan merasa sehat. Anggota TNI dan Polri yang meninggal akibat stroke, jantung, diabetes, dan gagal ginjal jauh lebih banyak dibandingkan yang gugur karena tertembak atau tertusuk saat bertugas," kata Budi saat Kick Off Skrining Tuberkulosis dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Senin (29/6/2026) bersama Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) Agus Andrianto.

Berdasarkan laporan yang Budi terima, penyakit paling banyak dialami warga binaan di lembaga pemasyarakatan adalah infeksi saluran pernapasan akut (ispa), stroke, dan penyakit jantung. Menurut dia, ketiga penyakit tersebut dapat ditekan melalui upaya pencegahan dan deteksi dini.

“Risiko stroke, penyakit jantung, dan gagal ginjal dapat dikurangi dengan menjaga tekanan darah tetap di bawah 120/80 mmHg, kadar gula darah di bawah 200 mg/dL, serta kolesterol di bawah 200 mg/dL,” katanya mengutip Antara.

Budi mengatakan obat untuk mengendalikan ketiga faktor risiko tersebut tersedia di fasilitas kesehatan. Maka dari itu masyarakat diminta tidak menunda pemeriksaan maupun pengobatan jika hasil pemeriksaan melebihi batas normal.

Ia juga mengajak masyarakat, termasuk petugas pemasyarakatan dan warga binaan, memanfaatkan program Cek Kesehatan Gratis. Pemeriksaan kesehatan secara berkala memungkinkan penyakit terdeteksi lebih awal sehingga dapat segera ditangani sebelum menimbulkan komplikasi.

 

Harap Tren Kasus TB pada Warga Binaan Turun

Di kesempatan yang sama, Menteri Imipas Agus Andrianto bakal memperkuat klinik di seluruh lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan sebagai bagian dari dukungan terhadap program kesehatan nasional.

Kementerian Imipas terus meningkatkan kapasitas layanan kesehatan sekaligus kompetensi tenaga medis di lingkungan pemasyarakatan agar mampu memberikan pelayanan yang semakin baik kepada warga binaan.

Ia mengapresiasi dukungan Kementerian Kesehatan berupa bantuan berbagai peralatan medis, seperti monitor pasien, mesin rekam jantung, pompa infus elektronik, dan perangkat kesehatan lainnya.

“Bantuan tersebut akan memperkuat pelayanan kesehatan di lapas dan rutan sekaligus mendukung pelaksanaan program CKG secara berkelanjutan,” katanya.

Agus mengatakan kondisi lapas dan rutan yang masih mengalami kelebihan kapasitas menjadi salah satu faktor tingginya risiko penularan tuberkulosis di lingkungan pemasyarakatan.

Berdasarkan data tahun 2025 prevalensi TB di kalangan warga binaan mencapai 3,64 persen atau 7.972 kasus aktif dari 218.962 warga binaan, sedangkan hingga Maret 2026, prevalensi turun menjadi 0,54 persen dengan sekitar 1.000 kasus aktif dari 271.994 warga binaan.

“Saya berharap tren penurunan tersebut terus berlanjut seiring pelaksanaan skrining massal dan penguatan layanan kesehatan di seluruh lapas dan rutan,” katanya.