Pipa Paralon untuk Cetakan Kue Putu, Awas Picu Migrasi Zat Beracun

Beberapa pedagang kue putu gunakan paralon untuk mengukus dan mencetak, ini bahaya di baliknya.

Diterbitkan 03 Juli 2026, 11:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kue putu umumnya dikukus dengan cetakan bambu. Namun, saat ini banyak ditemui pedagang kue putu yang menggunakan pipa polyvinyl chloride (PVC)/paralon dalam proses pembuatannya.

Menanggapi fenomena ini, pakar dari Fakultas Teknik dan Teknologi IPB University, Prof Eko Hari Purnomo, menyampaikan bahwa pipa PVC sebaiknya tidak digunakan untuk mencetak dan mengukus kue putu. Fenomena pedagang yang beralih dari batang bambu ke pipa paralon ini dinilai sangat berbahaya karena dapat memicu perpindahan komponen plastik beracun ke dalam makanan.

“Pipa paralon pada dasarnya dikembangkan untuk mengalirkan bahan dalam kondisi dingin, terutama jenis unplasticized PVC yang hanya bisa digunakan pada suhu di bawah 50 derajat celcius, sehingga tidak didesain untuk digunakan pada suhu tinggi,” katanya mengutip laman resmi IPB, Jumat (3/7/2026).

Eko menjelaskan, uap air bersuhu 100 derajat Celsius digunakan dalam proses pengukusan kue putu agar terjadi gelatinisasi pati beras (bahan utama) pada suhu sekitar 80 derajat Celsius.

“Suhu ini dapat mengakibatkan migrasi/perpindahan komponen plastik dari pipa paralon ke dalam kue putu. Pipa paralon umumnya dibuat dari plastik PVC terutama jenis unplasticized PVC yang hanya bisa digunakan pada suhu di bawah 50 derajat Celsius,” katanya.

Kondisi suhu tinggi tersebut memicu migrasi zat tambahan seperti stabiliser mengandung Pb (timbal) yang dapat menimbulkan gangguan pada ginjal. Selain itu, ada kemungkinan migrasi monomer pembentuk PVC yang bersifat karsinogenik atau memicu kanker.

Lebih Baik Gunakan Bambu

Menurut Eko, alat cetak dan kukus tradisional dari bambu merupakan alternatif yang aman dan lebih ramah lingkungan, dengan tetap memastikan proses pencucian dilakukan dengan baik. Hal tersebut sekaligus mempertahankan nilai kultural kuliner tradisional.

“Kalaupun menggunakan cetakan plastik, harus dipilih jenis yang aman untuk pangan pada suhu tinggi,” tambahnya.

Eko juga menegaskan pentingnya tanggung jawab lintas sektor dalam mengedukasi masyarakat.

“Masalah keamanan pangan adalah menjadi tanggung jawab dari pemerintah, produsen, dan konsumen. Terkait keamanan pangan, maka otoritas keamanan pangan (Badan Pengawas Obat dan Makanan/BPOM), pemerintah daerah, dan perguruan tinggi dapat mengambil peran aktif untuk mengedukasi masyarakat,” pungkasnya.