Keracunan Makanan Berulang pada Anak Bisa Ganggu Perkembangan Otak

Keracunan makanan berulang pada anak ternyata bisa berdampak pada elektrolit hingga fungsi otak.

Diterbitkan 10 September 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Keracunan makanan kerap dianggap sebagai gangguan pencernaan jangka pendek yang akan membaik setelah muntah dan diare berhenti. Padahal, jika terjadi berulang, kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan anak secara keseluruhan, terutama ketika tubuh kehilangan banyak cairan dan elektrolit.

Saat zat asing atau kuman berbahaya masuk ke saluran pencernaan, tubuh secara alami mengaktifkan mekanisme pertahanan melalui muntah dan diare untuk mengeluarkan zat tersebut.

Dokter spesialis gizi klinik konsultan penyakit metabolik, Nurul Ratna Mutu Manikam, M.Gizi, Sp.GK(K), SubSp.KM, menjelaskan bahwa muntah dan diare dapat membuat tubuh kehilangan cairan sekaligus elektrolit penting, seperti natrium dan kalium.

Jika kehilangan elektrolit berlangsung cukup berat atau berulang, kondisi tersebut dapat memengaruhi fungsi tubuh, termasuk sistem saraf dan otak.

"Sebetulnya kalau reaksi awal keracunan tubuh itu kan muntah ya. Lebih banyak muntah, kemudian diare, segala macam ya, terus efeknya apa? Elektrolit tubuhnya jadi hilang. Nah, kalau elektrolitnya banyak berkurang, natriumnya kurang, kaliumnya kurang, itu akan mempengaruhi perkembangan otaknya juga. Jadi akhirnya anak bisa kejang atau bisa sakit berulang, sehingga rentan terhadap penyakit," ujar Nurul dalam acara peresmian Gut and Immunity Council di Jakarta pada Rabu, 9 September 2026.

Meski demikian, Nurul menekankan bahwa gangguan kognitif jangka panjang akibat keracunan makanan merupakan kondisi yang sangat jarang. Jika ditemukan penurunan atau kemunduran perkembangan kognitif, penyebabnya perlu ditelusuri lebih lanjut melalui evaluasi medis.

"Kalau efek jangka lamanya memang harus dilihat lagi kenapa perkembangan kognitifnya jadi mundur. Harus ditelusuri lebih lanjut kondisi otaknya seperti apa, apakah karena infeksi, murni gangguan elektrolit secara kronis, atau sebab lain," tambahnya.

Menurut Nurul, kondisi tersebut juga dapat berkaitan dengan faktor lain, misalnya penyakit yang sudah dimiliki anak seperti cerebral palsy atau Down syndrome. Faktor eksternal yang berlangsung terus-menerus juga dapat memperberat gangguan fungsi otak.

Keracunan Makanan Juga Bisa Terjadi di Rumah

Risiko keracunan makanan tidak hanya berasal dari jajanan atau makanan yang dibeli di luar rumah. Kesalahan dalam mengolah, menyimpan, dan menyajikan makanan di rumah juga dapat meningkatkan risiko kontaminasi.

Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah "titik suhu kritis", yaitu kondisi ketika makanan berada pada suhu tertentu dalam waktu cukup lama sehingga lebih mudah terkontaminasi mikroorganisme.

Makanan yang sudah matang, terutama makanan berkuah atau mengandung santan, termasuk yang perlu mendapat perhatian. Jika terlalu lama dibiarkan pada suhu ruangan, makanan dapat menjadi tempat berkembangnya kuman, termasuk Staphylococcus.

"Jadi sebetulnya ada titik di mana titik suhu yang sifatnya kritis. Jadi dengan suhu tertentu. Misalkan suhu ruangan, makanan itu terpapar oleh suhu ruangan dalam jangka waktu yang lama, terutama kalau berkuah atau banyak santan gitu ya, jadi berubah kestabilannya. Oleh karena itu, kenapa makanan itu harus sesegera mungkin dikonsumsi," ujar Nurul.

Cara Menyimpan Makanan agar Tidak Mudah Terkontaminasi

Karena saluran pencernaan anak masih sensitif, makanan sebaiknya segera dikonsumsi setelah selesai dimasak, terutama makanan berkuah.

Jika makanan tidak langsung dikonsumsi, simpan dalam wadah tertutup dan masukkan ke dalam kulkas dengan suhu sekitar 4–5 derajat Celsius.

Sebelum diberikan kembali kepada anak, makanan perlu dipanaskan hingga mendidih untuk membantu membunuh bakteri yang mungkin telah berkembang selama penyimpanan.

Langkah sederhana dalam mengolah dan menyimpan makanan tersebut penting dilakukan untuk mengurangi risiko keracunan berulang sekaligus menjaga kesehatan dan tumbuh kembang anak.