Liputan6.com, Jakarta - Kentut merupakan hal yang wajar terjadi pada manusia. Normalnya, seseorang kentut 10-25 kali dalam sehari. Namun, jika lebih dari itu rasanya pasti tidak nyaman apalagi jika tengah berada di kantor atau sekolah.
Penyebab kentut terus menerus ada beragam. Berikut tujuh kemungkinan penyebabnya seperti mengutip laman Business Insider pada Selasa (22/9/2026).
1. Mengonsumsi Makanan yang Menghasilkan Gas
Advertisement
Beberapa jenis makanan lebih mudah menghasilkan gas dibandingkan makanan lainnya. Misalnya kacang-kacangan, brokoli dan kubis, produk olahan susu, lalu buah apel dan pir.
“Sering kali, makanan tersebut mengandung karbohidrat yang dapat difermentasi dan tidak tercerna di usus kecil. Ketika masuk ke usus besar, makanan tersebut diuraikan oleh bakteri dan menghasilkan gas sebagai produk sampingan,” kata Dr. Hamita Sachar, Wakil Kepala Divisi Gastroenterologi Yale Medicine sekaligus asisten profesor di Yale School of Medicine.
2. Terlalu Banyak Menelan Udara
Menelan udara dalam jumlah berlebihan saat makan, minum, atau berbicara juga dapat membuat seseorang lebih sering buang angin.
“Sebagian besar udara akan dikeluarkan melalui sendawa. Namun, udara yang tidak keluar akan melewati saluran pencernaan dan akhirnya dikeluarkan melalui anus sebagai kentut,” ujar Sachar.
Seseorang mungkin tidak menyadari bahwa kebiasaan sehari-hari membuat lebih banyak udara masuk ke saluran pencernaan. Makan terlalu cepat, mengunyah permen karet, atau mengonsumsi minuman berkarbonasi dapat menjadi pemicunya.
Untuk mengurangi kebiasaan buang angin yang disebabkan oleh terlalu banyak menelan udara, Sachar menyarankan untuk makan secara perlahan, hindari mengunyah permen karet.
3. Intoleransi Laktosa
Intoleransi laktosa merupakan kondisi ketika tubuh tidak mampu mencerna laktosa dengan baik. Laktosa adalah jenis gula yang terdapat dalam produk susu.
Menurut Dr. Jesse P. Houghton, Direktur Medis Senior Gastroenterologi di SOMC Gastroenterology Associates, kondisi tersebut terjadi akibat kekurangan enzim laktase yang berfungsi memecah laktosa di usus kecil.
“Karena kekurangan enzim tersebut, laktosa dapat mencapai usus besar. Di sana, bakteri akan menguraikannya dan menghasilkan gas seperti hidrogen dan metana,” kata Sachar.
Gejala intoleransi laktosa biasanya muncul sekitar 30 menit hingga dua jam setelah mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung laktosa.
Penyebab Lainnya
Irritable bowel syndrome atau IBS merupakan gangguan kronis pada saluran pencernaan yang terutama memengaruhi usus besar.
Houghton mengatakan, penderita IBS dapat mengalami sakit perut yang disertai perubahan pola buang air besar setidaknya sekali dalam seminggu selama tiga bulan terakhir.
Kondisi tersebut juga dapat membuat seseorang mengalami perut kembung dan lebih sering buang angin.
5. Pertumbuhan Bakteri Berlebih di Usus Kecil
Small intestinal bacterial overgrowth (SIBO) terjadi ketika jumlah bakteri di usus kecil terlalu banyak sehingga mengganggu keseimbangan bakteri normal di saluran pencernaan.
“Normalnya, jumlah bakteri di usus besar jauh lebih banyak dibandingkan usus kecil. Ketika keseimbangan tersebut berubah, produksi gas dan perut kembung dapat meningkat,” ujar Sachar.
Selain sering buang angin, SIBO dapat menimbulkan sejumlah gejala lain, seperti sakit perut, sembelit, diare, kelelahan, gangguan pencernaan, mual
6. Sembelit
Sembelit atau konstipasi umumnya ditandai dengan frekuensi buang air besar kurang dari tiga kali dalam seminggu. Seseorang juga dapat mengalami kesulitan atau harus mengejan saat buang air besar, serta memiliki tinja yang keras dan berbentuk seperti butiran kecil.
Konstipasi dapat berlangsung sementara. Namun, jika terjadi selama tiga bulan atau lebih, kondisi tersebut dapat dikategorikan sebagai konstipasi kronis.
“Ketika mengalami sembelit, tinja bergerak lebih lambat melalui saluran pencernaan. Selain tinja yang menumpuk di usus besar, gas juga cenderung ikut menumpuk akibat aktivitas bakteri yang menguraikan tinja,” kata Houghton.
Penumpukan tersebut dapat menyebabkan perut kembung, kram, dan lebih sering buang angin.
7. Penyakit Celiac
Penyakit celiac merupakan kondisi kronis ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi terhadap gluten, yaitu protein yang terdapat pada sejumlah jenis biji-bijian seperti gandum, rye, dan barley.
Kondisi ini berbeda dengan sekadar intoleransi gluten karena dapat menyebabkan kerusakan pada usus dan mengganggu penyerapan nutrisi.
Houghton menjelaskan, pada orang dengan penyakit celiac, konsumsi gluten dapat memicu peradangan dan iritasi pada usus kecil. Kondisi tersebut juga dapat menyebabkan produksi gas berlebih.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354245/original/038987000_1790044500-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-22T093245.164.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350433/original/029287200_1789615728-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-17T102714.549.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5491146/original/066985700_1770086696-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-03T094228.234.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354030/original/018131800_1789992594-cek_fakta_KM_Virgo_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354018/original/090481700_1789991329-kentut.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350795/original/061905200_1789630521-ChatGPT_Image_17_Sep_2026__14.15.53.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4647050/original/096680300_1699881296-Tempat_Sampah.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347871/original/082698900_1789371708-ChatGPT_Image_14_Sep_2026__14.36.52.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9352169/original/056693800_1789732852-Foto_1_credit_WWF-Indonesia_Ilham_Andriansyah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346285/original/094214300_1789120119-file_0000000047f882308af83e40b22f096a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1176605/original/028391000_1458444646-20160319-Earth-Hour-di-kawasan-Bundaran-HI-Fanani-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3929526/original/096494900_1644470631-jesse-schoff-Ph2KtIqKs7c-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9349154/original/070984700_1789475303-WhatsApp_Image_2026-09-15_at_7.23.17_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5349953/original/059135700_1757945389-Bapenas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346936/original/048560000_1789222746-WhatsApp_Image_2026-09-12_at_19.50.01.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5010796/original/017006400_1731931573-20241117_084948.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3518881/original/000279300_1627027346-karbon_un.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5542923/original/082720300_1775002808-influencer_kentut.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3383634/original/003487900_1613981154-pexels-cottonbro-6567969.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4397419/original/060937600_1681648442-farhad-ibrahimzade-qgGc_1a6xGc-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5545951/original/047112300_1775226794-ilustrasi_obat_anti_nyeri.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4654532/original/095337700_1700399959-cat-han-gytTQ0ESbtI-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296829/original/098179900_1784027448-Kolom_Pakar_Prof_Tjandra_Yoga_Aditama.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8269874/original/085915700_1782120262-pexels-karola-g-7281625.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9353890/original/029774000_1789982332-tooth_gem.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9353594/original/000037500_1789970523-WhatsApp_Image_2026-09-21_at_12.36.48.jpeg)