Liputan6.com, Jakarta - Anak juga rentan terkena pneumonia. Penyakit ini bukan hanya perlu diwaspadai pada lansia atau orang dengan penyakit penyerta. Anak-anak, terutama balita dan mereka yang baru memasuki usia sekolah, juga termasuk kelompok yang rentan mengalami infeksi paru akut.
Dokter spesialis penyakit dalam konsultan penyakit tropik dan infeksi, Joyce Bratanata, menjelaskan, kerentanan tersebut berkaitan dengan sistem kekebalan tubuh anak yang belum berkembang sempurna. Risiko penularan juga meningkat ketika anak mulai banyak berinteraksi dengan orang lain di sekolah maupun tempat bermain.
Anak usia di bawah lima tahun (balita) serta anak yang baru memasuki usia sekolah, sekitar 6 hingga 7 tahun, menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian.
Advertisement
Pada usia tersebut, interaksi sosial anak semakin luas sehingga peluang terpapar mikroba penyebab infeksi saluran pernapasan ikut meningkat. Penularan dapat terjadi melalui udara (airborne) maupun cipratan air liur.
"Saya kan dokternya penyakit dalam dewasa, tapi paling nggak saya kasih gambaran aja ya. Anak-anak, terutama usia balita dan anak sekolah sekitar 6-7 tahun, dia rentan karena apa? Ketika mereka mulai berinteraksi di sekolah, risiko penularan infeksi saluran napas menjadi sangat tinggi. Kan penyakitnya airbone, mudah tertular nih," ujar Joyce kepada Kepada Liputan6.com di sela-sela diskusi “A Familiar Illness. A Less Familiar Cause” oleh Pfizer di Jakarta pada Kamis, 24 September 2026.
Anak dengan Penyakit Penyerta Perlu Lebih Diwaspadai
Risiko pneumonia tidak sama pada setiap anak. Mereka yang memiliki kondisi medis tertentu dapat menghadapi risiko komplikasi yang lebih tinggi.
Joyce menyebut sejumlah kondisi yang perlu menjadi perhatian, antara lain thalassemia, leukemia, diabetes pada anak, HIV, hingga penggunaan obat yang menekan sistem kekebalan tubuh (imunosupresan).
Pada kondisi tersebut, sistem kekebalan tubuh anak dapat lebih rentan sehingga kemampuan tubuh melawan infeksi ikut menurun. Akibatnya, paru-paru lebih mudah terserang infeksi, termasuk yang disebabkan bakteri Streptococcus pneumoniae maupun virus.
Jika tidak segera ditangani, infeksi dapat menyerang alveoli atau kantung udara di paru-paru dan menyebabkan gangguan pernapasan berat.
“Tapi ada juga anak kecil yang punya penyakit-penyakit tertentu. Misalnya Thalassemia, Leukemia, terus mesti pakai obat yang menurunkan sistem imun, atau sedari kecil sudah kena diabetes juga ada. Kemudian juga ada anak yang lahir dari ibu HIV positif,” tambah Joyce.
Imunisasi dan Kebiasaan Bersih Jadi Perlindungan
Perlindungan terhadap pneumonia pada anak perlu dilakukan sejak dini. Salah satunya dengan mengurangi paparan terhadap faktor yang dapat meningkatkan risiko infeksi.
Orangtua dapat menghindarkan anak dari asap rokok dan paparan polusi udara. Kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan menggunakan sabun serta menerapkan etika batuk dan bersin juga penting untuk membantu mengurangi penularan infeksi saluran pernapasan.
Selain itu, pastikan imunisasi anak diberikan secara lengkap sesuai rekomendasi medis. Vaksinasi untuk mencegah infeksi pneumokokal dan influenza termasuk langkah perlindungan yang dapat diberikan sesuai indikasi dan panduan medis.
Joyce menegaskan, kerentanan sistem kekebalan tubuh anak menjadi salah satu alasan pentingnya perlindungan melalui vaksinasi, terutama bagi anak dengan kondisi medis tertentu.
"Mereka (anak-anak) tuh rentan imunitasnya. Kapan kita butuhkan vaksin? Orang sehat aja butuh vaksin, apalagi orang dengan banyak gangguan medis tertentu," pungkasnya.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9357774/original/082781700_1790305729-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-25T100732.986.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5240658/original/010183700_1748927908-Pesawat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9357442/original/090884500_1790248073-cek_fakta_pupr.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9357195/original/038011000_1790236151-HOAX__23_.jpg)
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1180,20,0)/kly-media-production/medias/9357470/original/011913400_1790249496-20260924_124609.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9357654/original/010090000_1790271446-1000443129.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356800/original/077671500_1790221190-WhatsApp_Image_2026-09-24_at_09.33.18.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332646/original/012342700_1787713788-e321c65d-e224-4b30-b5f9-c7dc77968345.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3940632/original/006857000_1645419592-caterpillar_6020b_equipina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355283/original/019472000_1790097211-WhatsApp_Image_2026-09-23_at_00.04.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350795/original/061905200_1789630521-ChatGPT_Image_17_Sep_2026__14.15.53.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4647050/original/096680300_1699881296-Tempat_Sampah.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347871/original/082698900_1789371708-ChatGPT_Image_14_Sep_2026__14.36.52.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9352169/original/056693800_1789732852-Foto_1_credit_WWF-Indonesia_Ilham_Andriansyah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346285/original/094214300_1789120119-file_0000000047f882308af83e40b22f096a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1176605/original/028391000_1458444646-20160319-Earth-Hour-di-kawasan-Bundaran-HI-Fanani-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3929526/original/096494900_1644470631-jesse-schoff-Ph2KtIqKs7c-unsplash.jpg)