Cerita Adit Insomnia Turunkan Berat Badan 14 Kg, Demi Lebih Aktif Temani Anak

Berat badan sempat naik belasan kg membuat Adit Insomnia merasa lebih ngos-ngosan saat temani anak bermain.

Diterbitkan 25 September 2026, 11:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Memasuki usia 40 tahun, entertainer Adit Insomnia mulai merasa tubuhnya tidak lagi sebugar dulu. Aktivitas sederhana bersama anak pun mulai membuatnya mudah lelah dan ngos-ngosan.

Ayah satu anak itu bercerita, ia mulai merasakan tubuh kurang nyaman ketika bangun tidur. Kakinya juga terkadang terasa sakit. Kondisi tersebut membuat Adit berpikir untuk mulai memperbaiki pola hidup.

Terlebih, anaknya yang berusia empat tahun sedang aktif-aktifnya. Adit ingin bisa mengikuti berbagai aktivitas bersama sang anak, termasuk bermain di playground.

“Kalau anak lagi ajak main di playground sudah mulai ngos-ngosan. Sebagai ayah yang mau bertanggung jawab atas tumbuh kembang anak, kan pengen ikutan temani bermain juga,” ujar Adit.

Keinginan untuk kembali aktif kemudian mendorong pria yang memulai karir sebagai penyiar radio itu untuk  berolahraga. Ia sempat terpikir untuk berlari, tetapi aktivitas tersebut justru terasa cukup berat dilakukan dengan kondisi tubuhnya saat itu.

“Kalau lari mulai susah, badan engap. Hal pertama yang dimulai dengan menurunkan berat badan, mulai jalan,” katanya saat media gathering Satu Tahun Halofit by Halodoc pada Kamis (24/9/2026).

Adit kemudian mulai dari aktivitas yang lebih sederhana, yakni berjalan kaki di sekitar kompleks. Namun, ia mengakui konsistensi menjadi tantangan.

Di tengah upayanya mencari cara yang cocok, ia juga mendapati ada temannya yang meninggal di usia relatif muda. Hal itu kemudian membuatnya berpikir untuk menjalani pola hidup yang lebih sehat.

 

Ikut Program Penurunan Berat Badan Didamping Tim Medis

Saat itu, berat badan Adit sempat di kisaran 86 hingga 88 kg. Ia kemudian mencari program penurunan berat badan yang dirasa sesuai dengan kebutuhannya. Ia kemudian mengikuti program penurunan berat badan dari klinik digital Halofit by Halodoc.

Saat itu, ia pun menimbang berat badan, diukur lingkar perut serta pemeriksaan kesehatan lainnya oleh tenaga medis. Kemudian Adit menjalani program penurunan berat badan seperti mengatur pola makan, olahraga serta terapi GLP-1.

"Aku kan pakai terapi GLP-1 hormon, pas awal-awal dokter kasih tau cara pakainya, diajarin tuh," tutur Adit.

Perlahan tapi pasti berat badannya mulai turun. Kini, berat badan Adit berada di kisaran 74 kilogram. Kini, ia mengaku bukan hanya berat badan turun tapi juga merasa lebih segar dan bugar.

Klinik Digital Penurunan Berat Badan

Adit Insomnia merupakan salah satu orang yang mengikuti program Halofit by Halodoc yang telah hadir satu tahun terakhir. Menurut VP Consultation & Diagnostics Halodoc, Ignasius Hasim sepanjang satu tahun terakhir, jumlah konsultasi di Halofit tumbuh hingga 37 kali lipat, dengan total lebih dari 68 ribu sesi yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Paling banyak tercatat di Surabaya dan Bandung.

Igna juga mencatat bahwa ada penurunan berat badan nyaris 19 kg dalam tiga bulan pada salah satu pengguna Halofit. 

"Disini kami yakin bahwa bisa membantu dalam penurunan berat badan," kata Igna.

Igna mengatakan ke depan Halofit  bakal melakukan hal berikut untuk membantu pengguna diantaranya:

● Care Room untuk membantu pasien memantau progres penurunan berat badan kapan pun.

● Support 24/7 didukung oleh tim medis Halofit dan HILDA, untuk memudahkan pengguna bertanya informasi mengenai program, nutrisi makanan (dan lainnya), hingga akses konsultasi ke dokter Halofit pada jam operasional.

● Widget jadwal injeksi mingguan untuk track dan pengingat jadwal terapi hormon penekan nafsu makan dari Halofit.