Smartwatch Bisa Deteksi Gangguan Irama Jantung tapi Bukan Alat Diagnosis

Hasil yang ditampilkan smartwatch tidak boleh langsung dianggap sebagai diagnosis gangguan irama jantung atau aritmia.

Diterbitkan 04 Agustus 2026, 11:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Beberapa smartwatch atau jam tangan pintar dilengkapi fitur yang dapat mendeteksi irama jantung. Beberapa perangkat mampu memberikan notifikasi jika terdeteksi kemungkinan gangguan irama jantung atau aritmia. Namun, seberapa akurat?

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan kardiovaskular Simon Salim mengatakan fitur tersebut bermanfaat sebagai alat skrining awal. Meski demikian, hasil yang ditampilkan smartwatch tidak boleh langsung dianggap sebagai diagnosis gangguan irama jantung.

"Sangat dianjurkan. Karena itu kan teknologi, namanya teknologi, ‘kan, kalau nggak digunakan, sayang ya. Jadi kita nggak anti teknologi, silakan gunakan smartwatch," kata Simon yang praktik di Brawijaya Hospital itu dalam temu media beberapa waktu lalu itu. 

Meski demikian, Simon mengingatkan jika perangkat elektronik tetap memiliki keterbatasan. Smartwatch masih dapat menghasilkan pembacaan yang keliru atau noise, sehingga hasilnya perlu dikonfirmasi oleh ahli.

"Namanya elektronik kan ada noise. Bahkan alat yang sudah tervalidasi di dalam rumah sakit aja, medical grade, itu pun ada noise," jelasnya.

Maka dari itu notifikasi dugaan aritmia dari smartwatch perlu dikonfirmasi melalui pemeriksaan dokter. Tujuannya untuk memastikan apakah hasil tersebut hanya gangguan pembacaan alat atau benar merupakan kelainan pada sistem kelistrikan jantung.

"Itu menjadi screening awal. Kalau enggak, kita sama sekali enggak tahu," ujarnya.

 

 

Tetap Perlu Pemeriksaan Lanjutan

Apabila smartwatch memberikan notifikasi adanya dugaan aritmia, pemeriksaan lanjutan diperlukan untuk memastikan diagnosis. Salah satu pemeriksaan yang umumnya dilakukan adalah rekaman elektrokardiogram (EKG) dalam jangka waktu lebih lama atau Holter monitoring selama 24 jam.

Menurut Simon, pemeriksaan tersebut diperlukan karena aritmia bisa tidak terjadi terus-menerus. Gangguan irama jantung dapat muncul dan menghilang, sehingga belum tentu terdeteksi saat pemeriksaan EKG biasa.

"EKG ini harus yang dibawa pulang. Selama 24 jam direkam terus-menerus, karena aritmia datang dan pergi. Belum tentu yang kita cek sekarang adalah saat aritmia," jelasnya.

Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti gangguan listrik di rumah yang tidak selalu muncul ketika teknisi datang memeriksa.

"Kayak listrik kan kedap-kedip. Kita panggil tukang listrik, pas datang enggak ada kedap-kedip. Kalau dia datang pas lagi enggak konslet, kan enggak kelihatan. Jadi kita harus menangkap pada saat konslet," tutur Simon.

Simon mengimbau masyarakat agar tidak mengabaikan notifikasi dari smartwatch yang menunjukkan kemungkinan gangguan irama jantung. Meski belum tentu menandakan aritmia, informasi tersebut dapat menjadi sinyal awal untuk segera berkonsultasi dengan dokter dan menjalani pemeriksaan lebih lanjut.         

Â