Orangtua Masih Denial, Anak Neurodivergent Terlambat Terdeteksi

Salah satu tantangan penanganan anak neurodivergent seperti ADHD dan disleksia.

Diterbitkan 12 Oktober 2026, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dr Imran Pambudi, menyoroti dua tantangan utama dalam penanganan individu neurodivergent seperti disleksia dan ADHD.

Dua tantangan tersebut yakni keterlambatan deteksi dan orangtua yang denial.

"Beberapa hal kami temukan itu adalah sudah ketemu tapi orangtua denial. Orangtuanya enggak mengakui kalau anak itu seseorang neurodivergen. Sehingga dia itu shopping doctor. Nyari, memastikan atau meminta second opinion bahwa anak saya tidak neurodivergent," kata Imran.

Karena menghabiskan banyak waktu untuk mencari dokter, maka terlambat diketahui. Ketika orangtua sudah menerima tapi potensi terbesar anaknya sudah tidak bisa ditemukan lagi.

Imran menjelaskan, ADHD adalah gangguan perkembangan syaraf yang mempengaruhi kemampuan fokus pengendalian impuls dan pengaturan tingkat aktivitas.

Sementara itu, disleksia adalah gangguan belajar yang memengaruhi kemampuan membaca, menulis, dan mengeja, meskipun kecerdasannya normal.

"Jadi ini perlu kita kita atasi ya, karena kalau enggak nanti anak-anak ini tidak bisa kita temukan potensinya sehingga dia menjadi generasi yang kurang produktif," ujarnya.

 

Suppporting System

Lantaran tidak mudah menghadapi kondisi tersebut, maka perlu sistem dukungan (supporting system) yang terintegrasi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat.

“Anak dengan disleksia memiliki tingkat kecerdasan (IQ) yang normal, namun cara otaknya memproses informasi berbeda. Tanpa akomodasi yang tepat di sekolah dan pemahaman keluarga, mereka sangat rentan mengalami perundungan (bullying), kecemasan (anxiety), hingga depresi berat,” jelas Konsultan Neurologi Anak FK Unpad/RSHS, dokter Purboyo Solek.