Apakah Rutin Pakai Oksigen Nasal Bisa Kurangi Dampak Asap Karhutla?

Penggunaan oksigen lewat selang hidung tidak serta-merta mengurangi dampak paparan asap karhutla.

Diterbitkan 26 Oktober 2026, 12:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Belum ada bukti ilmiah mengenai manfaat pemberian oksigen nasal (nasal cannula) yakni lewat selang hidung secara rutin untuk mencegah dampak dari paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada orang dengan saturasi oksigen normal. Manfaat pemberian oksigen nasal itu pada orang yang kekurangan oksigen.

"Secara medis, pemberian oksigen memang bermanfaat bagi pasien yang mengalami kekurangan oksigen dalam darah atau hipoksemia," kata dokter spesialis penyakit dalam konsultan, Profesor Ari Fahrial Syam lewat pesan tertulis pada Senin (26/10/2026).

Ari memaparkan asap karhutla mengandung partikel halus berukuran kurang dari 2,5 mikrometer (PM2,5), karbon monoksida, dan gas iritan. Ketiga hal itu dapat mengganggu kesehatan saluran pernapasan dan sistem kardiovaskular.

Partikel PM2,5 memiliki ukuran sangat kecil sehingga dapat masuk hingga ke alveolus paru. Paparan partikel ini dapat memicu masalah Kesehatan seperti stres oksidatif, peradangan saluran napas, gangguan fungsi paru, serta respons inflamasi sistemik yang berpotensi meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.

"Pemberian oksigen tambahan tidak dapat menghilangkan partikel PM2,5 yang telah masuk ke saluran pernapasan. Oksigen juga tidak secara langsung menetralisasi zat toksik maupun menghentikan proses inflamasi yang dipicu oleh partikel tersebut," jelas Ari.

Maka dari itu, seseorang dengan kadar oksigen darah yang masih normal, pemberian oksigen tambahan tidak terbukti memberikan perlindungan terhadap kerusakan paru akibat paparan asap.

Kapan Perlu Diberikan Oksigen Nasal?

Pemberian oksigen nasal diperlukan pada pasien yang mengalami gangguan pernapasan akibat paparan asap kebakaran.

"Pasien dengan hipoksemia, gangguan pertukaran gas, atau cedera inhalasi berat mungkin membutuhkan suplementasi oksigen sesuai kondisi klinis," kata Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu.

Pemberian oksigen konsentrasi tinggi merupakan bagian penting dari terapi pada kasus keracunan karbon monoksida. Namun, kondisi ini berbeda dengan paparan PM2.5 pada masyarakat yang masih memiliki saturasi oksigen normal.

"Keputusan pemberian oksigen harus didasarkan pada penilaian klinis dan indikasi medis, bukan semata-mata karena seseorang telah terpapar kabut asap," pesannya.

 

Cara untuk Mencegah Dampak Asap Karhutla

Bagi masyarakat yang terdampak asap karhutla, Ari mengatakan upaya yang paling efektif untuk mengurangi dampak kesehatan dengan membatasi paparan terhadap polutan.

Masyarakat dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara buruk. Lalu, bila harus beraktivitas di luar rumah pastikan menggunakan masker respirator N95 yang terpasang dengan baik.

Masker N95 membantu menyaring partikel halus seperti PM2.5, tetapi tidak melindungi dari karbon monoksida atau seluruh jenis gas iritan yang mungkin terdapat dalam asap kebakaran.

"Apabila muncul keluhan sesak napas, batuk berat, nyeri dada, atau gangguan pernapasan yang semakin memburuk, pemeriksaan medis perlu segera dilakukan," pesannya.