Liputan6.com, Jakarta - Kolesterol tinggi masih menjadi salah satu masalah kesehatan paling umum yang dihadapi masyarakat. Kadar kolesterol LDL atau 'kolesterol jahat' yang tinggi diketahui dapat meningkatkan risiko penyakit serius seperti serangan jantung dan stroke. Oleh sebab itu, obat statin sering diresepkan dokter sebagai terapi utama untuk menurunkan kolesterol.
Namun, di balik efektivitasnya, tidak sedikit pasien yang akhirnya menghentikan penggunaan obat ini. Alasannya beragam, mulai dari efek samping yang dirasakan hingga ketidaknyamanan dalam penggunaan jangka panjang.
Statin bekerja dengan cara menghambat produksi kolesterol di hati, sehingga kadar LDL dalam darah dapat ditekan. Bagi banyak orang, obat ini terbukti efektif. Namun, sebagian pasien mengalami efek samping yang cukup mengganggu, seperti dikutip Kesehatan Liputan6.com dari NDTV pada Rabu, 6 Mei 2026.
Advertisement
Keluhan yang paling sering muncul adalah nyeri otot, kelelahan, hingga gangguan pencernaan seperti mual atau kembung. Dalam kasus tertentu, statin juga dapat berdampak pada fungsi hati. Kondisi ini membuat sebagian pasien merasa tidak nyaman dan memilih menghentikan pengobatan, bahkan tanpa konsultasi lebih lanjut dengan dokter.
Padahal, menghentikan statin secara sepihak bisa berisiko. Kadar kolesterol dapat kembali meningkat dan memperbesar peluang terjadinya komplikasi kardiovaskular.
Fenomena ini menjadi perhatian para peneliti di bidang kesehatan. Mereka mulai mencari alternatif terapi yang tetap efektif menurunkan kolesterol, tetapi dengan risiko efek samping yang lebih minimal.
Salah satu pendekatan terbaru datang dari penelitian yang mengembangkan terapi berbasis DNA. Terapi ini tidak bekerja dengan cara yang sama seperti statin. Alih-alih menghambat produksi kolesterol, metode ini menargetkan protein tertentu dalam tubuh yang berperan dalam mengatur kadar kolesterol.
Â
Lebih Lanjut tentang Pengobatan Kolesterol Tinggi Tanpa Statin
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5515582/original/003394200_1772181056-obat_bahan_alam_ilegal.jpeg)
Protein yang dimaksud adalah PCSK9, yang diproduksi oleh hati. Protein ini berfungsi mengurangi jumlah reseptor LDL pada sel hati, sehingga kemampuan tubuh untuk membersihkan kolesterol jahat dari darah menjadi berkurang. Jika kadar PCSK9 tinggi, kolesterol LDL akan tetap beredar dalam jumlah besar.
Peneliti kemudian merancang molekul kecil berbasis DNA untuk 'membungkam' gen yang memproduksi protein tersebut. Dengan menurunnya aktivitas PCSK9, jumlah reseptor LDL meningkat, sehingga hati dapat lebih efektif membersihkan kolesterol dari aliran darah.
Hasil awal penelitian ini cukup menjanjikan. Dalam uji laboratorium dan hewan, terapi tersebut mampu menurunkan kadar kolesterol secara signifikan hanya dalam waktu singkat.
Salah satu peneliti, Profesor Veronica Noe, menjelaskan,"Hasil penelitian menunjukkan bahwa molekul ini sangat efektif menurunkan kadar PCSK9, baik di tingkat gen maupun protein. Pada model hewan, penurunan kolesterol terjadi secara signifikan hanya dalam beberapa hari."
Pendekatan ini dinilai berpotensi menjadi solusi bagi pasien yang tidak toleran terhadap statin atau yang tidak mendapatkan hasil optimal dari terapi konvensional.
Â
Advertisement
Terapi untuk Kolesterol Tinggi Ini Masih dalam Penelitian
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4945936/original/087656400_1726563158-fotor-ai-20240917154136.jpg)
Meski begitu, para ahli menegaskan bahwa terapi ini masih dalam tahap penelitian dan belum tersedia secara luas untuk penggunaan klinis. Uji coba pada manusia dalam skala besar masih diperlukan untuk memastikan keamanan dan efektivitasnya.
Sementara itu, bagi pasien dengan kolesterol tinggi, pendekatan utama tetap tidak berubah. Pola makan sehat, aktivitas fisik teratur, tidur yang cukup, dan manajemen stres tetap menjadi fondasi utama dalam menjaga kadar kolesterol.
Obat, termasuk statin, seharusnya menjadi bagian dari strategi yang lebih besar, bukan satu-satunya solusi. Konsultasi dengan tenaga medis tetap penting agar terapi yang dijalani sesuai dengan kondisi masing-masing individu.
Pada akhirnya, memahami manfaat dan risiko dari setiap pengobatan adalah kunci. Dengan begitu, pasien dapat mengambil keputusan yang lebih tepat tanpa mengorbankan kesehatan jangka panjang.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4866719/original/017032400_1718697583-Pajak1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5497481/original/095565600_1770631238-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-09T163415.626.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292785/original/068110200_1783657736-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-10T112807.834.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292724/original/032902100_1783654519-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-10T102917.054.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5330451/original/090933900_1756361164-786c64a4-eefd-441e-bf58-0560ff6cdfb1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261560/original/020942400_1781744954-AP26168812020257.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289370/original/055592900_1783402351-belgia.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262483/original/075097700_1781805987-Argentina_s_Lionel_Messi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8458975/original/034009900_1782358096-Antoine_Semenyo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9291495/original/010123400_1783565898-norwe.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288956/original/060181200_1783352729-Yuran_Fernandes__dok._Persebaya_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264044/original/048184800_1782061399-063_2282635876.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288262/original/025055100_1783308426-eng5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292649/original/094376400_1783641258-Achraf_Hakimi_dan_Ayyoub_Bouadd.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288081/original/061472300_1783298244-nor8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289008/original/052236500_1783385709-sp2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4616836/original/032491000_1697713438-nguy-n-hi-p-2rNHliX6XHk-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5478851/original/077779500_1768952518-Untitled_design__5_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258372/original/017118700_1781338914-WhatsApp_Image_2026-06-13_at_3.16.26_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258370/original/024955300_1781338913-WhatsApp_Image_2026-06-13_at_2.32.37_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257032/original/078891900_1781186469-golongan_darah_o.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7684314/original/077404700_1780480430-Konselor_Pemberi_Makan_Bayi_dan_Anak__PMBA___Dr._Ian_Suryadi_Suteja__M.Med.Sc.__Sp.A.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5146314/original/070878300_1740800751-1f780b64-5f19-46b7-9fb9-206825769dd9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7253541/original/004636600_1780039640-sayur_hijau.jpeg)