Orang Kurus Bisa Kolesterol Tinggi, Dokter Ungkap 4 Penyebabnya

Bukan cuma orang gemuk atau obesitas, seseorang dengan penampilan kurus bisa memiliki kadar kolesterol tinggi.

Diterbitkan 23 Juli 2026, 14:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Banyak orang menganggap kolesterol tinggi terutama kadar low-density lipoprotein/LDL atau "kolesterol jahat" hanya dialami oleh mereka yang bertubuh gemuk. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Padahal seseorang yang terlihat kurus juga bisa memiliki kadar kolesterol tinggi yang berisiko mengalami penyakit jantung.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Susetyo Atmojo mengatakan masih banyak masyarakat yang memiliki persepsi keliru bahwa tubuh kurus identik dengan tubuh yang sehat.

"Di masyarakat kita masih ada anggapan kalau penyakit jantung hanya menyerang orang gemuk. Seolah-olah kalau kurus berarti aman," kata Susetyo dalam Daewoong Indonesia Heart Talk di Jakarta pada Kamis (23/7/2026).

Sejumlah penelitian menunjukkan risiko penyakit jantung juga dapat ditemukan pada orang kurus. Bahkan, sekitar satu dari empat orang bertubuh kurus atau dengan berat badan normal sudah memiliki kumpulan faktor risiko penyakit jantung.

Lantas, apa yang membuat orang kurus tetap bisa memiliki kolesterol tinggi?

1. Faktor Keturunan

Susetyo menuturkan salah satu faktor faktor genetik atau familial hiperkolesterolemia, yaitu kelainan bawaan yang menyebabkan kadar kolesterol jahat (LDL) tinggi sejak lahir.

Menurut Susetyo, penderita kondisi ini belum tentu bertubuh gemuk. Bahkan, meski sudah menjaga pola makan, kadar kolesterolnya tetap tinggi karena tubuh mengalami gangguan dalam memecah kolesterol.

"Ada orang yang secara genetik memang memiliki kadar LDL jauh lebih tinggi dibandingkan orang seusianya. Mereka bisa makan sehat dan tetap kurus, tetapi kadar kolesterolnya tetap tinggi karena ada kelainan pada proses pemecahan kolesterol," jelas pria yang juga dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).

Pada kondisi tertentu, kadar kolesterol penderita familial hiperkolesterolemia bahkan dapat mencapai lebih dari 500 mg/dL, bahkan hingga 1.000 mg/dL.

Faktor Selanjutnya

2. Cara Memasak Makanan

Bukan hanya jumlah makanan yang dikonsumsi, cara mengolah makanan juga berpengaruh terhadap kadar kolesterol. Susetyo mencontohkan seseorang mungkin makan dalam porsi sedikit, tetapi hampir seluruh makanannya digoreng atau menggunakan banyak minyak.

"Orang bisa saja makannya sedikit, tetapi kalau cara memasaknya selalu digoreng dan terpapar banyak minyak, kadar kolesterol tetap bisa tinggi," katanya.

Karena itu, ia menyarankan masyarakat lebih sering memilih metode memasak seperti merebus, mengukus, atau memanggang dibanding menggoreng.

3. Kurang Bergerak

Kurus juga bukan berarti aktif bergerak. Menurut Susetyo, kurangnya aktivitas fisik dapat memengaruhi metabolisme lemak sehingga kadar kolesterol tetap meningkat meski berat badan tidak bertambah.

Olahraga secara rutin membantu meningkatkan kolesterol baik (HDL) sekaligus membantu menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL).

 

4. Penumpukan Lemak di Organ Dalam

Selain berat badan, distribusi lemak di tubuh juga perlu diperhatikan. Seseorang bisa tampak kurus, tetapi memiliki penumpukan lemak di sekitar organ-organ dalam atau obesitas sentral.

Lemak yang mengelilingi organ seperti hati, pankreas, dan usus lebih berbahaya karena memicu peradangan kronis yang meningkatkan risiko penyakit jantung.

Untuk mengetahuinya, seseorang dapat mengukur lingkar pinggang. Pada populasi Asia, lingkar pinggang lebih dari 90 cm pada pria dan lebih dari 80 cm pada wanita termasuk obesitas sentral.

"Itu adalah lemak yang paling berbahaya karena menghasilkan peradangan paling tinggi dan meningkatkan risiko penyakit jantung," kata Susetyo.

Susetyo mengingatkan masyarakat agar tidak hanya berpatokan pada bentuk tubuh saat menilai risiko kolesterol tinggi. Pemeriksaan kadar kolesterol secara berkala serta penerapan pola hidup sehat tetap diperlukan, baik pada orang gemuk maupun kurus.             Â