Gejala Alzheimer Muncul Perlahan, Bisa Berujung Ganggu Aktivitas Harian

Sekitar 60-80 demensia merupakan jenis Alzheimer. Umumnya muncul di atas 65 tahun.

Diterbitkan 21 September 2026, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Alzheimer merupakan jenis demensia yang paling banyak ditemukan di dunia. Sekitar 60-80 demensia merupakan jenis Alzheimer seperti disampaikan dosen Fakultas Kedokteran IPB University, dokter Yeni Quinta Mondiani.

“Demensia sendiri merupakan kumpulan gejala penurunan kognitif yang cukup berat sehingga mengganggu aktivitas kesehariannya,” jelas Yeni.

Fungsi kognitif yang terganggu pada demensia tidak hanya berkaitan dengan memori. Kemampuan tersebut juga mencakup atensi, visuospatial, bahasa, hingga fungsi eksekutif yang berhubungan dengan pengambilan keputusan.

Alzheimer umumnya muncul pada usia di atas 65 tahun. Penyebab utamanya adalah penumpukan protein abnormal di otak, yaitu beta amyloid.

Pada sebagian kasus, penyakit ini dapat muncul sebelum usia tersebut atau dikenal sebagai early onset Alzheimer, yang salah satunya dapat berkaitan dengan mutasi gen.

Gejalanya berkembang secara perlahan, diawali dengan penurunan fungsi kognitif dan daya ingat yang kemudian dapat semakin berat hingga mengganggu kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari.

Meski belum ada terapi yang dapat menyembuhkan Alzheimer, ada sejumlah kebiasaan yang dapat dilakukan untuk membantu menekan risikonya.

“Gaya hidup sehat adalah langkah nyata untuk menurunkan risiko demensia Alzheimer. Pencegahan jauh lebih baik daripada menunggu saat fungsi kognitif sudah menurun,” kata Yeni.

Berikut cara menurunkan risiko Alzheimer:

1. Tetap Aktif Bergerak

Aktivitas fisik menjadi salah satu bagian dari pola hidup sehat yang dianjurkan untuk menjaga kesehatan secara keseluruhan.

Tetap aktif bergerak dapat dilakukan sesuai kemampuan dan kondisi masing-masing. Kebiasaan ini tidak harus selalu berupa olahraga berat, tetapi dapat berupa aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin.

2. Kelola Stres

Stres juga perlu dikelola sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan. Mengatur waktu istirahat, melakukan aktivitas yang menyenangkan, dan memiliki cara yang sehat untuk menghadapi tekanan sehari-hari dapat membantu mengelola stres.

3. Hindari Rokok dan Alkohol

Yeni juga menekankan pentingnya menghindari rokok dan alkohol. Mengurangi paparan terhadap faktor risiko tersebut menjadi bagian dari penerapan gaya hidup sehat yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

4. Kontrol Diabetes dan Hipertensi

Kesehatan pembuluh darah juga berkaitan dengan kesehatan otak. Karena itu, faktor risiko vaskular seperti diabetes dan hipertensi perlu dikontrol.

Gangguan pembuluh darah di otak sendiri dapat berkaitan dengan demensia vaskular, yang merupakan salah satu jenis demensia selain Alzheimer.

Yeni menegaskan bahwa menjaga gaya hidup sehat merupakan langkah yang dapat dilakukan untuk menurunkan risiko demensia Alzheimer.

“Gaya hidup sehat adalah langkah nyata untuk menurunkan risiko demensia Alzheimer. Pencegahan jauh lebih baik daripada menunggu saat fungsi kognitif sudah menurun,” pungkas Yeni.

Dengan demikian, menjaga kesehatan otak tidak harus menunggu sampai muncul gangguan daya ingat. Tetap aktif bergerak, mengelola stres, menghindari rokok dan alkohol, serta mengontrol diabetes dan hipertensi dapat mulai dilakukan sebagai bagian dari kebiasaan hidup sehat.