Cara Seseorang Memperlakukan Hewan Bisa Ungkap Karakternya

Ternyata cara seseorang memperlakukan hewan bisa mengungkap sisi kepribadian yang tersembunyi.

Diterbitkan 27 Juni 2026, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Health Collaborative Center (HCC), Dr. Ray Wagiu Basrowi, menjelaskan, kekerasan terhadap hewan bukan sekadar tindakan yang merugikan hewan tapi juga dapat menjadi indikator masalah perilaku yang lebih luas. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa cara seseorang memperlakukan hewan sering kali mencerminkan tingkat empati dan kemampuan mengendalikan perilakunya.

1. Kekerasan terhadap Hewan Adalah Tanda Bahaya yang Perlu Diwaspadai

Penelitian di bidang forensik dan kriminologi menemukan bahwa riwayat kekerasan terhadap hewan dapat berkaitan dengan masalah kontrol impuls, agresivitas, hingga perilaku antisosial pada sebagian individu.

Oleh sebab itu, kata Ray, sejumlah negara menjadikan kasus kekerasan terhadap hewan sebagai bagian dari sistem deteksi dini untuk mengidentifikasi potensi risiko perilaku kekerasan.

2. Pemeriksaan Kejiwaan Bertujuan Memahami Faktor Risiko

Pemeriksaan psikologis atau psikiatris tidak serta-merta berarti seseorang mengalami gangguan jiwa.

Pemeriksaan dilakukan untuk menilai kemampuan memahami konsekuensi tindakan, mengendalikan impuls, kondisi psikologis, serta faktor-faktor yang mungkin berkontribusi terhadap perilaku tersebut.

"Tujuannya bukan mencari pembenaran, melainkan memahami akar masalah agar kejadian serupa dapat dicegah di kemudian hari," katanya.

3. Empati Berperan Penting dalam Perilaku Sosial

Kemampuan merasakan penderitaan makhluk hidup lain merupakan salah satu fondasi penting dalam kehidupan sosial.

Ketika empati menurun, risiko munculnya perilaku yang merugikan orang lain maupun hewan dapat meningkat. "Karena itu, empati menjadi faktor protektif yang penting bagi kesehatan mental dan hubungan sosial yang sehat," tambahnya.

4. Jangan Hanya Menghakimi tapi Pahami Akar Permasalahannya

Di era digital, masyarakat cenderung cepat marah, mengutuk, dan memberikan penilaian terhadap suatu peristiwa. Padahal, upaya pencegahan membutuhkan lebih dari sekadar reaksi emosional.

Penting untuk memahami berbagai faktor yang mungkin berperan, mulai dari kondisi keluarga, lingkungan, pendidikan, hingga kesehatan mental individu.

5. Tanggung Jawab Bersama

Kekerasan terhadap hewan bukan semata-mata masalah penegakan hukum. Isu ini juga berkaitan dengan keluarga, pendidikan, kesehatan mental, dan peran masyarakat.

Perlindungan terhadap hewan dapat menjadi cerminan tingkat empati dan kepedulian dalam sebuah komunitas. "Semakin tinggi empati yang dibangun, semakin besar pula peluang terciptanya lingkungan yang lebih aman dan sehat bagi semua makhluk hidup," pungkasnya.

 
 
 
View this post on Instagram

A post shared by KOLABORASI SEHAT (@hcc.indonesia)